Rabu, 19 November 2014

*..Ah Sudahlah..*

Duduk terdiam sendiri merenungkan hal yang telah terlewati. Apakah aku salah melabuhkan hatiku pada dirimu, yang tercantik di mataku yang terbaik di hatiku. Rintikan derai hujan di langit malam, ikut menghanyutkan lamunan panjangku menjauhi kenyataan. Ah sudahlah, kau memang tak pernah mengerti perasaanku saat ini yang sedang menunggumu, mengingatmu di setiap langkahku. Seperti halnya nafasku yang selalu kurajut bersama namamu dalam setiap hembusan kecilnya sebelum berakhir menjadi sesuatu yang lebih kecil di dalam tubuhku, denyut nadiku..



Ternyata lamunanku membawaku jatuh ke dalam sebuah kesadaran. Kau tak pernah menemukan aku. Kau tak pernah mencari hadirku. Ternyata tak mudah untuk dirimu memaafkanku, seperti yang aku mau seperti yang aku tuju. Kau sudah melupakan aku. Kau sudah membuang aku. Dan kau sudah menggantikan aku. Meski aku masih menunggu di depan pintu hatimu dan kau tak pernah sadari itu. Kau tak pernah mengerti hakikat sang waktu bagiku, jika kau memintaku untuk lebih lama menunggu. Ah sudahlah, kau memang tak pernah mengerti betapa kejamnya sang waktu yang mampu merubah segalanya. Tak terkecuali keyakinan dan penantianku untukmu..

Dan ada benarnya apa kata mereka, cinta tanpa logika hanya akan membuat kita semakin terluka. Dan seharusnya aku percaya hal itu dari dulu. Tapi entah tertinggal dimana logikaku saat itu. Entah ku taruh di mana dirinya saat itu. Coba kau cari ia di sudut kamarmu atau diatas meja kerjamu yang berantakan itu, mungkin ia sedang bersembunyi disana? Tidak ada! Ah sudahlah, mungkin ia telah ikut terbuang bersama semua hal tak berharga yang pernah kuberikan untukmu. Aku mulai mengerti apa artinya, aku mulai mengerti apa maksudnya..

Padahal kaupun tahu jika dirimulah satu-satunya yang bersemayam di hatiku, penuhi ruang kecilnya dengan bayangmu. Kutahu kau tak mau lagi menemuiku, maksudmu terbuka dari sikapmu. Namun selalu ku terhanyut dalam harapan yang kiranya ternyata hanyalah mimpi. Sampai kapankah aku kan serendah ini, selalu menunggumu di balik pintu yang terkunci. Kapan kau hentikan keegoisanmu, menutup pintu maafmu itu untukku. Kutakut raga ini kan lelah dan meninggalkan dirimu yang teramat ku cinta untuk selamanya. Ah sudahlah, memang aku yang harus menghentikannya sampai disini. Sebelum dirimu yang teramat berarti untukku membunuh diriku yang teramat tak berarti untukmu..

Dan aku tak bisa bila nanti kau menuntut aku untuk menjadi sosok yang setia seperti janji yang selalu kutulis disini. Menjadi yang lebih lama menunggu, menjadi yang terakhir bagimu. Maafkan atas khilafku yang telah menyiakan kesempatan yang pernah kau beri. Sungguh ku tak ingin melukaimu, sungguh ku tak ingin membuatmu menangis saat itu. Maafkan atas ingkarku yang telah mendustakan janji yang ku beri. Sungguh ku hanya ingin melihatmu tersenyum bahagia. Selamanya, tanpa penghalang bernama aku dan cinta bodohku. Ah sudahlah, lagipula aku selalu yakin jika esok kan membawamu menghapus semua mimpi burukmu karena pernah mengenalku di dalam hidupmu dan ku kan mengerti semua..

Mungkin disini kisah kita harus berakhir ditempat dimana cinta itupun terlahir. Dan ada kalanya aku harus menyerah dan kembali, sendiri. Tak mengapa bukankah hidupku juga nanti kan sendiri. Jika saatnya mata hatimu terbuka biarlah kenyataan ini yang akan mendewasakan kita. Waktu berlalu tak terasa adanya dan kita memang harus terpisah meski kita berada di bawah langit yang sama. Ah sudahlah, mungkin memang benar kata mereka mengharapkan hadirmu di sini untuk selamanya hanya akan buat hatiku lebih terluka..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..