Rabu, 19 November 2014

*..Suara Dari Si Penunggu Hati..*


"Masih merindu?" Tanyanya pada sosok yang duduk tersudut di sebuah ruangan.

"Ya tentu, lebih dari biasanya malah" terdengar jawaban pelan yang nyaris tak terdengar.



"Kenapa?" Sebuah tanya kembali di ajukan "Kenapa masih saja merindukannya?"

Terdengar helaan nafas panjang. Hening sesaat. "Entahlah, sampai saat ini aku juga belum menemukan alasan kenapa aku masih merindukannya."

"Alasan? Cih! Selalu saja kata itu yang kau sebutkan. Bukankah kau juga pernah mengatakan padaku, dulu kau mencintainya tanpa alasan dan sekarang kau bilang kau juga merindukannya tanpa alasan? Lalu jika alasan itu masih belum kau temukan lalu kenapa kau bisa bilang kalau kau merindukannya?"

"Kamu takkan pernah mengerti, sampai kapanpun makhluk sepertimu takkan pernah mengerti." Sekali lagi jawaban seperti bisikan pelan itu yang terdengar.

"Ya, aku memang tak pernah mengerti. Terlebih aku tak pernah mengerti apa yang sedang kau lakukan. Jika kau bilang kau merindukannya kenapa kau tak berusaha untuk menemuinya?"

"Sudah kubilang aku tak punya alasan! Meskipun rindu ini menyiksa batinku tapi aku tak mempunyai alasan untuk bertemu!" Kali ini sosok itu bicara dengan nada yang meninggi dengan sorot mata tajam pada lawan bicaranya.

"Persetan dengan alasanmu itu! Bukankah rindu itu juga bisa kau jadikan alasan untuk kalian bisa bertemu? Lalu apalagi yang kau khawatirkan?" Jawabnya tak mau kalah dengan nada tinggi.

Sosok itu berdiri dari duduknya, perlahan mendekat dan berhenti tepat dua langkah dari lawan bicaranya "Kau salah. Aku memang bisa menjadikan rindu itu sebagai alasan, tapi ia tak mempunyai alasan untuk bertemu lagi denganku. Jika seperti itu bukankah hanya aku yang ingin bertemu? Bukankah hanya aku yang akan senang ketika bisa bertemu? Sedangkan dia, apa kau pernah memikirkan perasaannya?"

"Dasar bebal! Kau hanya berpikir terlalu jauh. Mungkin saja di sana ia juga sedang merindu? Mungkin saja ia juga sedang menunggu? Kau lupa? Dia seorang wanita tak mungkin ia yang pertama mengatakannya." Dengan kasar mencengkram kerah baju orang yang ada di depannya.

Sambil menundukan kepalanya, sosok itu berkata "Mungkin? Hah, lucu!" Terlihat senyum sinis di wajahnya. "Kau katakan hal itu dengan dasar kata mungkin? Jika mungkin disini ia tidak sedang merindu atau menunggu, masihkah aku harus bertemu? Kau hanya mengada-ada dengan hal yang tak pernah ada."

"Memang! Tapi itu lebih baik daripada dirimu yang hanya bisa diam dan menunggu. Kau lemah! Kau bodoh! Kau naif! Lihat dirimu sekarang, menjijikan!" Bentaknya pada sosok yang berada dalam cengkraman kedua tangannya.

"Aku tak lemah! Hanya saja aku tak sekuat dirimu. Aku hanya tak siap jika kemungkinan terburuk itu yang datang padaku. Aku tak ingin sakit untuk yang kedua kalinya. Aku tak ingin kecewa untuk yang kedua kalinya."

"Kalau begitu kau egois. Kau hanya mementingkan perasaanmu sendiri. Jika kemungkinan terburuk itu yang datang, hadapilah. Bukankah kau juga pernah melewatinya? Kau hanya terlalu takut jatuh sebelum mulai melangkah. Jika terus seperti ini kau hanya mengingkari perasaanmu sendiri. Kau hanya akan terus terbaring disini sampai mati!"

"Lalu aku harus apa? Aku harus bagaimana? Mudah kau untuk bicara, karena kau tak pernah merasakan berada di posisiku. Kau tak pernah merasakan jatuh cinta itu seperti apa!" Ia balas mencengkeram kerah baju orang itu, lebih keras hingga cengkeraman padanya tadi jadi terlepas.

Sedikit tercekat dengan tindakan sosok yang berada di hadapannya, ia tak menyangka sosok yang ia nilai lemah di depannya ternyata mempunyai kekuatan untuk melawannya. Terlebih sosok itu telah menyentuh bagian terlemah dalam dirinya. "Kau benar. Kau memang selalu benar. Aku memang tak pernah jatuh cinta. Perasaan yang tak pernah aku mengerti dari hati seorang manusia." Terdengar nada pilu dalam kalimatnya.

"Maaf.. Aku tak bermaksud." Sambil melepaskan cengkeraman tangannya.

"Baiklah, jika ku mengambil kesimpulan kau tak bisa menemuinya lagi kenapa kau tak mencoba untuk melupakannya?" Kali ini dengan sorot mata yang lebih teduh.

"Melupakan? Kau menyebutkan kata yang tak pernah aku pikirkan dan takkan pernah aku pikirkan. Kau tahu? Lebih baik selamanya ia berada dalam kenangan sampai aku mati daripada aku harus melupakannya. Karena sekalipun aku berhasil melupakannya tapi itu tak bisa menutup kenyataan bahwa ia adalah wanita yang aku cintai." Jelas ia kecewa dengan saran yang diberikan oleh orang yang ada di hadapannya itu.

"Sungguh aku bingung dengan perkataanmu, dengan sikapmu. Semuanya berlawanan dengan logika manusia yang pernah aku pelajari"

"Sudahlah memang tak semua hal di dunia ini dapat kita mengerti. Tentang hati misalnya." Perlahan sosok itu memilih kembali duduk di sudut ruangan.

"Lalu?"

"Apa?"

"Masih merindu?"

"Ya, lebih dari biasanya"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..