Minggu, 01 Juni 2014

*..Kisah Tentang Kota Hujan..*


Pernahkah kamu mendengar kisah tentang sebuah kota yang kucintai? Kota yang tidak pernah punya senja tanpa cerita. Bahagia, rindu, sedih, luka, sepi, dan tentu saja hujan. Hujan disini selalu punya teman yang bernama aku dan kenangan. Hujan disini selalu pintar membangunkan kenangan lama yang dulu sempat memudar..


Aku selalu terkacaukan oleh hujan yang selalu datang. Selalu datang tanpa pertanda, tanpa terkendali. Selalu! Saat aku ada disini. Aku tak pernah membayangkan diriku akan menjadi seperti ini. Menjadi sosok rapuh yang selalu jatuh padanya berkali-kali. Ingin rasanya kugenggam tetes-tetes air itu dengan erat. Menggenggam rasa rindu yang jatuh bersama warnanya yang pekat. Mendekap tanda tanya yang tak pernah terucap..

Aku menyukai hujan yang turun di kota ini. Walau terlihat seperti air mata yang jatuh dari sebuah mendung yang murung. Atau seperti sayup hitam berwarna gelap yang menyelimuti sebuah kesedihan tak berujung. Aku tidak peduli! Karena masih ada cukup banyak hal yang membuatku merasa bahagia ketika berada di sini. Aku menyukai hujan. Kamu tahu, hujan membuat segala sesuatu menjadi hidup, sebab selamanya hujan hanyalah air yang turun dari langit..

Dan hari ini aku kembali. Disini. Tetap disini dengan alasan yang tak pernah aku ganti, kamu. Menyesakkan, tapi bagiku ini adalah satu-satunya jalan untuk memelihara harapan itu agar tetap hidup. Jangan tanya bagaimana dengan lelahku? Karena rasa lelah sudah menyapa sejak dulu. Tapi tak mengapa aku terbiasa melawannya. Masih ingatkah dirimu saat aku menunggu hadirmu di persimpangan jalan dulu? Lelahnya melebihi lelahku saat ini, sesaknya melebihi sesakku saat ini. Jadi jikapun hari ini kau tak datang lagi, aku takkan kecewa. Karena aku telah terbiasa bercengkrama dengannya..

Dan seperti yang pernah kubilang, gerimis kembali menerjang, sebelum diriku sempat mengucapkan selamat datang kepada setiap helai rumput yang tumbuh di halaman belakang sebuah sekolah tua yang sudah usang. Tanah yang kuinjak seperti pasrah ketika rintik pertamanya mulai turun. Terasa dingin dan basah. Sebelum kemudian butiran-butiran hujan lainnya menghantamnya dengan keras. Dan selalu ada sesuatu yang tercipta dari tingkah laku mereka. Merasuk, terhirup, dan bersarang dalam tenggorokan keringku. Ya, tak pernah diriku bosan untuk mencium aroma indah saat hujan turun membasahi kota kecilmu ini. Aroma teduh, aroma pengingat bahwa butir-butir air dari langit telah turun. Aroma tanah, begitu aku menyebutnya. Aroma yang kuhirup dalam-dalam. Aroma yang terus mengingatkan aku padamu..

Gerimis menari-nari dengan ritmis. Merayu-rayu langkahku untuk mencari tempat berteduh. Tak berhasil. Aku masih berdiri disini. Kesal mungkin, hujan menjelma menjadi lebat. Ia menderas, didukung oleh guntur yang semakin keras memaki dan berteriak di atas langit yang meredupkan diri. Seluruh makhluk menari bersama hujan. Tak terkecuali angin yang beraroma dingin, membuatku gigil..

Aku bukannya sengaja menunggu, karena sejujurnya aku sudah tidak mau lagi menunggu. Menunggu itu membosankan, tanpa kepastian, terlebih karena kamu tak pernah datang. Tapi terkadang aku tetap menunggu. Tetap disini. Sulit menjelaskannya kenapa. Sulit untuk mencari alasannya apa. Mungkin sama seperti yang sedang kamu lakukan saat ini, melihat hujan di balik jendela membuatmu mengantuk dan kemudian tanpa sadar kamu akan menguap. Atau saat sebuah lagu kesayanganmu terputar dari headset putih yang tersembunyi di balik surai warna merah mudamu itu, tanpa sadar kamu akan ikut bernyanyi dengan suara kecilmu. Ah iya! Mungkin seperti itu, tak disadari tapi terjadi. Mungkin karena aku terbiasa menunggumu, aku jadi tak menyadari kembali melakukannya hari ini..

Apa kamu tahu? Aku selalu percaya ketika hujan turun doa kita lebih bisa terkabul. Jadi kupikir, kenapa tidak mengubah rinduku ini menjadi doa kepada Semesta, lalu berharap semuanya akan berubah. Namun tak mungkin, Semesta sedang tidak ingin mendengar selarik doa yang dibisikan oleh lelaki bodoh seperti aku. Suaraku yang terlalu kecil atau kalimatnya yang terlalu pendek. Tapi sekali lagi aku tak peduli karena akupun tidak pernah berharap permintaanku akan dikabulkanNya. Bagiku, apa yang ku lantunkan saat ini hanyalah bentuk pelarian dari kekecewaan, dari keputusasaan. Akan tetapi doa tidak hanya bisa didengar oleh semesta. Kamu pun mempunyai telinga, mendengar apa yang terkadang tak bisa mereka dengar. Merasakan apa yang terkadang tak bisa mereka rasakan..

Mungkin saja kamu tahu kalau ada seseorang yang selalu menunggu di sini. Tapi kalau kamu memang tahu, seharusnya kamu segera datang kan? Atau jika kamu tidak mau datang, kamu bisa memberitahuku untuk berhenti menunggu kan? Karena rasanya aku sendiri sudah tidak bisa memberitahu diriku untuk berhenti menunggumu. Aku memang terlalu keras kepala dan egois, terlalu percaya kalau suatu saat nanti kamu pasti datang. Di sini, menghampiriku di batas kota hujan..

Jika kamu membaca ini, tertawalah. Seperti tawamu akan hal-hal bodoh yang pernah aku lakukan tempo hari untukmu. Seperti tawamu yang mungkin selalu menertawai orang bodoh sepertiku yang selalu diam dan lebih memilih hujan, tanpa pernah berani mengetuk pintu rumahmu. Ya, terkadang manusia selalu bisa menjadi benar-benar bodoh di hadapan orang yang dicintai. Begitu pula aku. Terdiam, dan hanya bisa mendekap hujan dalam pelukan. Sendiri merangkul hujan dalam keheningan..

Aku telah menjumpai hujan di kotamu. Menatap langit kelabu dan terus bertanya akan sampai kapan seperti ini? Seandainya hujan bisa dihentikan. Untuk saat ini saja. Seandainya waktu berhenti bergerak. Untuk kali ini saja. Aku ingin kembali membingkaikan segaris senyummu itu ke dalam sudut ingatan. Membingkaikan sebuah rasa yang tak akan pernah terhapuskan. Di sini, di batas kota hujan yang aku cintai..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..