Rabu, 19 November 2014

*..Saat Hujan Turun Di Pagi Hari(2)..*


Aku tahu, kamu membenci pagi yang seperti ini. Pagi yang murung karena mendung yang menggantung. Tak ada indahnya fajar, juga sinarnya yang biasa membuka pagimu dengan harapan. Semuanya tertutup awan hitam yang tak bosan bergelayut manja di langit sana, mengirimkan ribuan tetes hujan yang membuat harimu muram. Padahal hari ini kamu harus berangkat ke suatu tempat, namun karena hujan suasana menjadi dingin dan membuat langkahmu menjadi berat. Terpaksa payung kecil di sudut ruangan menjadi sebuah pilihan, jika memang hujan enggan untuk berhenti hari ini..



Tak cukup dengan hujan di pagi hari, siangnya pun hujan masih setia mengguyur bumi. Kamu menghela nafas, ditatapnya butiran butiran air yang menempel di balik kaca jendela kamarmu. Hujan kembali menghancurkan rencanamu, harapanmu, dan juga mimpi-mimpimu. Kamu tak lagi mempunyai pilihan, selain segera melebarkan payung kecilmu dan beranjak menembus hujan agar segera sampai ke tempat tujuan..

Hari minggu yang menyenangkan jika saja tak ada hujan. Kamu menghela nafas kembali, hari ini intensitas hujan begitu deras membuat kegiatanmu diluar ruangan mesti disertai perjuangan keras. Dan yang lebih penting lagi hujan akan membuat hatimu teringat akan sesuatu. Aku. Seseorang yang tak pernah bosan menunggumu di bawah hujan. Aku tahu selama hujan turun kamu akan mengingatku, menemukanku diantara tetes-tetes hujan yang jatuh dan mengalir ke arah selokan. Mengendap dan memenuhi ruangnya seperti sampah. Ya akulah sampahmu, sampah yang ingin kau buang, sampah yang mengotori cerita cintamu..

Aku yang kerap mengirim doa-doa kecil pada dua malaikat yang selalu mendekap tubuhmu dengan erat, aku yang masih bisa tersenyum ketika kembali kutatap wajahmu itu dalam bingkai foto berwarna cokelat, juga aku yang sesekali dihukum dengan kekecewaan karena mengabaikan takdir semesta yang berusaha menyadarkanku meski terlambat. Kamu bisa dengan mudah mengabaikanku kalau saja hujan itu tak pernah menyapa. Kamu bisa dengan mudah mengacuhkanku kalau saja cerita ini tak pernah kau baca..

Tok...Tok...Tok... Kamu tersentak dari lamunan saat sebuah ketukan terdengar dari jendela kamar. Siapa gerangan yang mengetuk jendela di hari hujan seperti ini. Tanpa basa basi lagi kamu segera bangkit menuju ke arah jendela, tanpa ragu-ragu menuju ujung kamarmu dan menengok siapa yang berada di balik jendela itu. Ternyata hanya angin. Angin yang meminta belas kasihan untuk berteduh sebentar dari hujan yang membuat tubuhnya gemetar. Hanya sebentar tak sampai harus membuatmu mengusirnya keluar..

Dan apa yang angin bilang padamu tadi sebelum ia pergi? Terima kasih? Sampai jumpa? Sepertinya kamu tak begitu pintar untuk mengerti bahasa angin. Memang tak semua hal dapat kamu mengerti di dunia ini, seperti halnya aku dan perasaanku saat ini. Satu hal yang sudah kita mengerti, sebuah perbedaan antara aku dan kamu. Perbedaan yang mungkin bisa dengan mudah kita rubah menjadi persamaan. Hujan. Tak seperti dirimu yang terus merutuki hujan. Aku justru senang berbaur dengan hujan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..