Rabu, 19 November 2014

*..Hanya Sebuah Bayang..*

sebuah bayang

Senyum manisnya masih terekam hingga kini, saat ia masih mengingat caranya untuk tersenyum dihadapan seorang pemujanya yang tak tahu diri. Aku! Menuliskan hal ini aku tak lupa memutar sebuah lagu yang mengingatkanku pada pertemuan beberapa tahun yang lalu disaat ia masih bisa menyapa dan tersenyum padaku. Ya, sebuah lagu dari salah satu grup musik favoritku menemani resonansi imajinasi yang tersirat dalam lembaran fiksi bodoh untuk sang tuan puteri..



Dan tak ada yang bisa membuatku tersenyum selain senyumnya. Hingga kini aku tak pernah bosan menuliskan ini, catatan tanpa tujuan. Dan entah kapan akan kubuang atau kujadikan sebuah tumpukan lembaran pembungkus jajanan yang selalu dia hampiri di pinggir jalan. Dalam hati, ku berharap dia takkan pernah membaca tulisanku di baliknya. Terlebih, ketika kini kuyakini ia hanya menganggapku hanya sebuah bayang yang tak mampu tersentuh dan akan tetap hitam dari sudut manapun ia melihatku..

Akan ada banyak cerita yang akan dituliskan pada lembar demi lembar kertas kosong bersampul merah tua, bukan merah muda seperti warna favoritnya. Tentang senja yang kita tatap sama-sama meski perbedaan jarak dan koordinat keberadaan kita, kemudian cerita tentang sunyi dan rindu dan semuanya berlalu dengan begitu syahdu..

Aku yang dikatakannya sebagai bayangan, yang tetap hitam dari sisi manapun ia melihat. Hanya bisa mengikuti arah angin sambil membayangkan apa yang tengah tuan putri lakukan sekarang ini di dalam istananya. Ku harap ia tak sedang bersedih, ku harap ia tak pernah memperlihatkan kesedihannya. Tetap tersenyum meski dengan senyum palsu yang dulu berhasil menipu pandanganku. Itulah kenapa aku sangat mengaguminya. Alunan musik masih tetap terdengar lembut. Membayangkan ia kini sedang tersenyum membuat bibir pucatku juga ikut tersenyum, mengadu mesra dengan pucatnya warna awan yang memagut..

Kini bayangan hitam semakin redup terlihat, nyaris tak ada cahaya yang membantunya untuk tetap ada. Namun bayangan yang dianggap bayangan itu selalu hadir, memperhatikan kisah yang sedang ia ukir, tersenyum dari jarak yang diberikan oleh takdir. Doa nya masih tetap terangkai pada pekat malam yang sunyi, hingga terkadang secarik kertas ia goreskan pena kemudian bayangan itu mulai melukiskan wajah yang akan tetap dikenang, meski yang dikenang tak pernah tahu ia sedang dikenang..

Sang bayangan hanya duduk manis di sudut tempat dimana kuda-kuda para ksatria ditempatkan terkadang bayangan itu hanya duduk terkesima saat ksatria-ksatria itu menaiki kudanya, sambil berbicara manis dengan tuan putri lalu membawanya menuju kesebuah taman surga dimana para malaikat mengepakan sayapnya. Percayalah, bayangan itu melihat hanya saja tak terlihat. Karena apa daya dalam setiap cerita yang selalu berakhir bahagia, sang tuan puteri selalu di takdirkan semesta untuk bersanding dengan para ksatria..

Memang sampai kapanpun sebuah bayangan hanyalah sebuah bayang. Sang bayang duduk bersimpuh memandangi pantulan cahaya dari sang surya, bersandar pada tiang besi berkarat tua yang telah dimakan usia. Tak ada suara yang tercipta, hening memeluk hangatnya senja. Diambilnya sebatang kayu kecil, lantas ia ukir dengan lembut pada tanah kering separuh basah karena tersiram bekas tumpahan hujan milik semesta tadi pagi, dan kayu itu menari menuliskan sebuah kata. Kata yang tertulis dalam kesadaran hati yang ikhlas dan jujur, kata itu adalah “Rindu”..

1 komentar:

  1. mt malam bos mohon ijin kata" terindahnya saya pke buat sttus fb say makasih iia bos ,,slam sukses sllu bosku

    BalasHapus

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..