Rabu, 19 November 2014

*..Selamat Malam Langitku..*


Selamat malam langitku, selamat malam hujanku. Aku tak tahu di belahan langit miliknya sekarang sedang turun hujan ataukah tidak ? Ataukah mungkin sekarang di sana sedang turun salju? Pasti indah. Kalau boleh berkata jujur aku belum pernah melihat salju. Mungkin, jika nanti hujanku sudah cukup bosan menghiburku ia pasti akan digantikan oleh salju, seperti yang turun dari langit miliknya. Dan aku akan bisa menyaksikan salju dengan mata kepalaku sendiri tanpa harus berdiri di bawah langitnya..



Selamat malam langitku. Aku tahu kamu selalu sibuk. Atau sekarang kamu sedang mengantuk? Tapi tak apa, tak usah kau jawab. Karena aku selalu percaya telingamu selalu tersedia untuk siapapun yang bercerita kepadamu walau dengan nada suara yang teramat kecil. Karena aku yakin pelukanmu selalu terbuka bagi siapapun yang kedinginan dengan hujan yang membuatnya gigil. Karena aku mengerti tanganmu selalu siap menyatukan kembali kepingan-kepingan hati yang luruh patah menjadi serpihan kerikil..

Masih tentang hal yang sama, langit. Aku belum ingin ganti tema. Tentang dia seseorang yang selalu aku bicarakan lama bersamamu. Seseorang yang selalu aku sebut dalam frase pendek ketika berbincang denganmu. Aku sudah tahu keadaan yang Semesta ciptakan adalah yang terbaik untukku. Aku mengerti kalau Semesta sedang mempersiapkan takdir lain yang jauh lebih baik untukku. Tapi bukan berarti aku tidak boleh menyebut namanya dalam Do'a? Benar kan..?

Dan jangan kau beritahu aku lagi, langit. Karena yang ini aku juga sudah tahu. Dia sudah menemukan penggantiku! Seseorang yang memujanya seperti aku, hanya saja bedanya orang itu tak pengecut dan bodoh seperti diriku. Dan atas alasan apapun, aku harus turut bahagia mendengar kabar itu. Karena dia tidak perlu merayakan kesedihan, kekecewaan, dan kesakitan seperti yang dulu pernah aku lakukan padanya. Langit, sungguh aku tak ingin dia merasakan lagi apa yang dia rasakan dulu. Aku tak pernah tega melihat orang yang kucintai terluka seperti luka yang belum juga kering di dadanya. Aku hanya ingin kebahagiaannya terjamin olehnya, seseorang yang menggantikan aku..

Tertawalah sepuasmu langit! Tertawalah sekencang-kencangnya! Semoga tawamu bisa terdengar olehnya, semoga tawamu bisa meredakan hujan dan kenangan yang jatuh berserakan. Dan jujur, dulu ku pernah berfikir untuk melarutkan segala kesakitan yang ku rasa ini bersama hujan yang selalu turun dari tubuhmu. Agar aku tak lagi pernah merasa kehilangan dan tak perlu lagi menangisi sebuah perpisahan. Rasanya hidup seakan terlalu mudah ketika seseorang mampu melupakan segala rasa sakit dan yang akhirnya hanya rasa bahagia yang di ingat. Namun aku tahu hidup tak semudah itu, langit. Karena kau pun pernah berkata rasa sakit tercipta agar kita tahu bagaimana rasanya bahagia, karena kau pun menurunkan hujan agar kita tahu indahnya warna pelangi. Tapi kau pun selalu lupa satu hal langit, takkan ada pelangi yang tercipta dari hujan di malam ini..

Aku memang tak perlu mengharap kembali. Aku rasa dia juga sudah bahagia bersama penggantiku. Aku turut bahagia jika semua hal itu benar. Kembali pada bagian awal, langit. Permintaanku masih sama do'a ku pun masih sama, seperti hari-hari kemarin dan juga sebelum-sebelumnya "Semesta jagalah kebahagiaannya untukku. Bahagiakan dia untukku. Senyumannya adalah segalanya yang aku harapkan. Bahkan, aku rela berdo'a untuknya selamanya hanya untuk memastikan lengkungan senyum itu selalu hadir di bibirnya" Aku memang tak menyentuhnya, tapi dalam jarak sejauh ini aku masih bisa memeluknya dalam doa. Kembali pada bagian awal. Selamat malam langit, semoga deras hujanku malam ini. Tolong tarikan selimutnya untukku, hangatkan tubuhnya dengan pelukmu, semoga indah selalu hadir dalam mimpinya.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..