Rabu, 11 Oktober 2017

*..Rahasiakan Ini Dari Hatimu..*

"Tolong rahasiakan ini dari hatimu ya. Disini aku hanya ingin bicara denganmu yang ada disana. Jangan kamu bawa hatimu dalam urusan ini. Karena aku takut ia takkan memahami dan mengerti apa yang akan kukatakan disini.."


Jadi sekarang, apa kabarmu yang ada disana? Sudah lama tidak bertukar sapa. Apa kamu sudah lupa? Padahal dulu kita selalu bertanya hal membosankan itu tanpa jeda. Membosankan tapi tetap kita lakukan. Aneh kan? Sepenting itukah menanyakan kabar tentang seseorang? Ya, dulu kabarmu adalah alasan dimana aku bisa memulai hariku dengan tenang. Karena kata 'baik-baik saja' meski terdengar sederhana, namun terdengar menjadi sebuah mantra yang pernah menenangkan jiwa..


Dan, kumohon jangan beritahu hati. Jika aku sedang menanyakan kabarmu hari ini. Aku takut dia membujukmu untuk mengabaikan tanyaku. Mengajakmu kembali meninggalkan, dalam kebisuan tanpa jawaban. Seperti yang selalu dia lakukan kini padaku. Memberi kesepian untukku, yang selalu sendirian menunggu jawabmu. Sekali ini saja, abaikan hatimu. Beritahu aku kabarmu, agar segera reda sebuah rindu yang sekarang menjadi candu..


Jadi sekarang, beritahu bagaimana caramu melewati hari-hari membosankan ini? Ya, begitu membosankan bagiku disini. Karena ku harus melewatinya tanpamu. Tanpa canda dan tawa yang dulu pernah menjadi cerita. Ataukah tak ada bedanya untukmu? Karena canda dan tawamu masih bisa kau temukan meski tanpaku. Jika seperti itu harusnya ku mengutuk dirimu. Karena telah menghilangkan canda dan tawaku bersama kepergianmu. Namun apa daya pemilik berhak mengambil apa yang dimilikinya. Begitupun canda dan tawaku yang dulu menjadi begitu istimewa saat masih bersama..


Dan, kumohon jangan beritahu hati. Jika aku sedang membahas senyum dan tawa yang kini telah pergi. Aku takut dia marah dan mengungkit masalah yang sudah-sudah. Menyalahkanku yang pernah percayakan senyum dan tawa itu untuk dia jaga. Nyatanya dia tak pernah bisa setia menjaganya dengan segenap jiwa. Dan akhirnya senyum dan tawa itu kini berubah menjadi luka. Sekali ini saja, hiraukan ocehan hatimu. Beritahu aku caramu melewati hari-hari sepimu. Agar ku juga bisa melewatinya tanpa hadirmu disisiku..


Jadi sekarang, ceritakan padaku apa tema mimpimu saat ini? Masihkah aku yang menjadi tokoh utamanya? Jujur aku juga pernah memimpikanmu. Mimpi dimana setiap pagi kuawali hariku dengan memandang lukisan yang sama. Lukisan indah yang Semesta ciptakan dengan begitu sempurna. Lukisan berwujud kamu yang sedang berada dalam pelukan disampingku. Menikmati setiap detil keindahanmu lewat senyum dan tawa itu. Senyum dan tawamu adalah pelengkap senyum dan tawaku. Karena percayalah, tersenyum dan tertawa sendirian itu menyedihkan. Seperti saat ini yang sedang aku lakukan..


Dan, kumohon jangan beritahu hati. Jika aku kembali mengungkit senyum dan tawa itu lagi. Percayalah, semua itu kini hanya menjadi sebuah mimpi. Mimpi yang selalu datang dalam setiap lamunan. Seperti kenangan yang selalu hadir dikala hujan, menghanyutkan, dan tenggelam semakin dalam. Kuyakin hatimu takkan mengerti, jadi biarlah selamanya seperti ini. Kita disini bersama membicarakan masa lalu, tanpa ada hati yang ikut mengganggu. Karena jika hati ikut bicara, kamu pasti tahu akhirnya akan seperti apa..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..