Minggu, 19 Maret 2017

*..Kisah Tentang Kota Hujan(3)..*

kisah tentang kota hujan 

"Pernahkah kamu mendengar kisah tentang kota hujan? Satu kota kecil yang menyimpan rahasia besar untuk cerita kita. Mestinya kamu ingat sudah berapa kali kita kehujanan bersama disana. Tidak? Baiklah, biar aku kembali mengingatkannya padamu. Hanya satu. Karena hanya satu yang kuingat ketika hujan datang menyapa di sudut kota, aku selalu bersamamu.."
 
Jika harus memilih aku ingin hujan di kota ini tak pernah berhenti selamanya. Hadir setiap saat, datang setiap waktu. Saat aku bersamamu. Agar tak ada alasan untuk saling melepaskan genggaman. Bukankah semakin erat kita menggenggam dingin ini akan berubah menjadi hangat? Setidaknya sedikit lebih hangat, daripada membeku dalam bisu.. 
 
 
Walaupun hujan melambangkan kesedihan, tapi aku tak pernah bosan untuk mengaguminya dengan segenap perasaan. Sama besarnya dengan kekagumanku pada ciptaan semesta yang paling indah, kamu. Kuharap kesedihan hujan itu tak berpindah ke wajah cantikmu. Ya, tetaplah cantik seperti biasanya. Lengkap dengan senyum istimewa yang selalu berhasil membuat iri para peri diatas sana. Anggap saja hujan ini adalah tangisan para peri yang sedang bersedih meratapi kekalahannya. Ya mereka kalah cantik darimu. Jadi tetaplah cantik seperti biasanya, agar aku bisa menikmati hujan ini sedikit lebih lama.. 
 
 
Tak usah berpura sibuk menghitung jumlah tetes air hujan, hanya untuk mengabaikan jumlah kata dari sebuah pertanyaan yang sedang kuajukan. Biar kuhitung jumlahnya untukmu. Dan jumlahnya sama. Lima. Ya, cuma lima. Apakah aku salah? Maaf, aku hanya bisa menghitung dengan jumlah jari tanganku saja. Jangan tertawa! Bukankah aku memang sebodoh itu, dari awal kamu pun tahu itu. Makanya kamu selalu senang membodohiku, iya kan? Lalu kemana lima jari yang lainnya? Hei, apa kamu lupa bahwa kita sekarang sedang saling menggenggam erat? Haruskah kulepaskan genggaman ini agar jawabanku menjadi lebih akurat? Padahal pertanyaanku saja belum kamu jawab dengan tepat..
 
 
Dan hujan akhirnya sudah tak lagi deras, menandakan bahwa kita harus segera bergegas. Tinggalkan sudut kota ini menuju tempat ternyaman untuk kamu tinggali. Dia, tempatmu untuk kembali. Bukan aku, tempatmu sejenak berhenti lalu kemudian pergi. Sejenak berhenti ketika hujan turun di kota ini. Menjadikanku tempat berteduh dari basah yang selalu mengundang resah. Dan ketika para peri diatas sana mulai berseri kembali, tak ada lagi alasan buatku untuk menahanmu untuk tak pergi. Lepaskan genggamanmu. Kembalilah padanya yang sedang menunggu. Biarkan, tak usah pedulikan aku disini yang kembali bercengkrama dengan waktu dan juga rindu. Disudut kota dimana ku harus membunuh sebuah rasa..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..