Senin, 09 Januari 2017

*..Selamat Malam, Hujan..*




"Selamat Malam, Hujan.."


Lama tak melihatmu berkunjung di balik jendela kamarku. Kukira kau sudah melupakanku. Maafkan aku hujan, karena beberapa waktu yang lalu aku terlalu sibuk memperhatikan dia. hingga aku lupa memperhatikanmu. Dan dengan kejamnya aku malah memintamu untuk tak lagi menurunkan tetes-tetes airmu ketika aku bersamanya. Aku memang terlalu kejam, padahal aku tahu saat itu kau hanya ingin memperkenalkan dirimu padanya. Kau hanya ingin lebih akrab dengannya, seseorang yang sangat kusayangi selain dirimu. Bagaimana kabarmu hujan? Kuharap kau menjaga kesehatanmu. Belakangan kau selalu datang saat malam hari, aku khawatir hujan, udara malam tak baik untukmu. Aku? Tenang, aku baik-baik saja. Hanya saja ada yang terasa sesak di dalam sini. Entahlah, aku juga tidak begitu paham, tapi kau mungkin mengerti Hujan, karena aku selalu cerita apa pun kan padamu..?


Kau tahu Hujan, aku suka menghabiskan waktu di sini tiap kali tak tahu harus berbuat apa. Di balik jendela kamarku. Hujan aku rindu padamu, berhari-hari kau tak pernah datang ke sini lagi. Dan aku tak tahu harus cerita pada siapa lagi. Aku tahu, kau pun butuh istirahat, mungkin jenuh tapi tak mau bilang, jenuh dengan aku yang terus memaksamu menemaniku bercerita. Hujan, pernah kau rindu sesuatu. Ah ya, kau pasti sudah bosan dengan tema ceritaku, selalu saja tentang rindu..

Kau tahu, rasanya lebih mudah mengerti setumpuk ensiklopedia setebal ribuan halaman atau belajar bahasa asing dengan tempo satu hari, ketimbang membaca dan mengerti isi hati. Aku sendiri sangat jarang,  jarang sekali bisa menangkap apa maksud hati dengan tepat. Mungkin karena aku bukan seekor Ageha warna-warni yang hidup dengan sepasang antena di keningnya sebagai penebal sinyal insting dan intuisi..

Aku ingin mengatakan, menanyakan dan menegaskan sesuatu sebenarnya padamu, tapi tak tahu harus mulai darimana. Dan justru kadang aku berpikir hal ini bukan sesuatu yang harus kau dengar. Bukankah memang tidak semua kalimat bertakdir sama, yaitu diucapkan. Banyak kalimat yang hanya mengantung dipikiran dan harus rela tersembunyikan demi insting yang belum tentu benar, apa aku salah bicara..?

Hujan, aku hanya ingin tahu, apa saat kau menepi di balik jendela kamar seseorang yang selalu kuceritakan namanya padamu, dia masih sempat mengingatku? Mengingat sepotong kenangan yang pernah tercipta, lalu mungkin sekarang berubah bentuk, menyublim? Atau sekedar dia menulis-nulis namaku dengan bulir-bulir tetesmu yang menyamarkan kaca jendela kamarnya, seperti yang dulu pernah dia bilang? Atau dia terpikir apa kabarku saat ini..?

Ahaha… aku tahu kau pasti terbahak seandainya kau punya kerongkongan. Aku memang bodoh, keadaan tak lagi seperti saat itu. Dan kau mengingatkanku lagi kalau ratusan surat yang kuikatkan di kaki merpati agar sampai di meja orang itu tak pernah dapat balasan, mungkin tak penah sampai. Apa salahnya berpikir baik sekali-sekali. Mungkin ini hanya kesalahan arah angin yang menerbangkan merpati-merpati itu. Mungkin dia belum menerima suratnya, jadi masih wajar kalau belum ada balasan. Yang sebenarnya adalah aku takut membayangan dia tengah merobek surat-surat itu, membuangnya ke perapian dan merubahnya jadi abu..

Hujan, seandainya kau sampai di tepi jendela kamarnya suatu saat nanti, sampaikan padanya, aku mohon katakan, kalau aku mencintainya tanpa jeda. Seperti saat kau menderas meruncingkan perasaan di tiap butirmu. Sudah cukup untukku setidaknya dia tahu aku pernah dan masih mencintainya. Dan setelah ini aku akan membiarkan semuanya seperti lembar-lembar skenario yang sudah digenggam waktu. Aku menurut saja pada lembaran yang mengalun teratur, menjalaninya sambil menunggu..



Dengan bodohnya, masih saja kau mencintainya tanpa jeda. Sebenarnya aku beberapa kali menepi di tepi jendelanya, membasahi dan memburamkan kaca jendelanya. Ya dia masih mengingatmu, tapi sering kali dia memalingkan wajah ke arah lain saat terbersit tentang kau, yang terlalu mencintaiku, mencintai Hujan. Seperti ingin menghilangkan sesuatu, seperti siap-siap menguap dalam kenangan yang ada namamu. Dan aku menyerah, menebak-nebak apa yang ada dipikiran wanita itu sebenarnya, yang lebih sering menghabiskan malam dengan secangkir kopi pahit di tepi jendela kamarnya. Mungkinkah dia cemburu padaku? Ah tidak mungkin, harusnya aku cemburu padanya, karena kau selalu memikirkannya jika aku menemuimu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..