Minggu, 30 April 2017

*..Meninggalkanmu Bersama Hujan.. *


"Karena ketika hujan turun, itu artinya kamu sedang menangis disana. Jadi menangislah sekerasnya agar hujan semakin deras dan menyamarkan tangismu dengan rinainya.. "




Terlalu mudah untuk mengetahui suasana hatimu. Aku tak perlu bertanya dan buang-buang tenaga, apalagi harus mengikuti setiap langkahmu melewati hari-hari yang selalu kamu katakan membosankan. Bahkan aku juga tak perlu selalu berada disisimu, menjadi yang selalu ada saat kamu membutuhkan sandaran. Tak perlu susah payah untuk melakukan semuanya, tak perlu tertatih untuk mengetahui yang sedang kamu rasa. Cukup ku melihat langit diatas sana. Maka ku akan temukan jawabannya. Walau kita berada di tempat yang berbeda, namun aku yakin warna langit kita tetaplah sama..


Kecewamu, sedihmu, dan tangismu tergambar jelas di langit sana. Terlukis tanpa tinta dan cat warna, namun terlalu indah untuk kita abaikan begitu saja. Semoga disana kau sama seperti aku yang ada disini, memperhatikan langit yang pernah menjadi saksi cerita kita. Perhatikan baik-baik, walaupun tak selalu warna biru favoritku yang terlihat. Karena terkadang hitam yang memudar menjadi isyarat jika rintik pertamanya semakin dekat. Dan hitam pun semakin pekat. Dan akhirnya tetes pertamanya mulai menyapa bumi. Ya hari ini hujan lagi, dan disana kamu menangis lagi..


Hari ini kembali hujan. Seperti kemarin, seperti hari itu. Kamu menangis dan hujan pun turun. Seolah langit bersekutu dengan hatimu. Ia menangis saat kamu menangis, ia bersedih saat kamu bersedih. Hujan turun hari itu, saat kamu bersamaku. Aku yang telah membuatmu menangis hari itu. Aku yang telah melukaimu. Aku yang telah menyakiti perasaanmu. Begitu hebatnya aku menyakitimu hingga Semesta berikan hujan sebagai hadiah atas kesalahanku. Sekarang hujan menjadi sebuah kutukan, selalu datang bersama kenangan yang masih tertinggal dalam ingatan..


Sungguh bukan maksudku menyakitimu. Membuatmu menangis sepanjang hari itu. Hingga akhirnya hujan menjadi sesuatu yang sering kulihat sampai detik ini. Tak satupun hari yang kulewati tanpa hujan yang menyertai. Hujan seolah menjadi akrab dan betah tinggal dalam hidupku yang sepi. Ya sepi, karena kini aku sendiri. Bukankah hari itu aku memilih meninggalkanmu? Ingat? Bersama hujan aku meninggalkanmu, seseorang yang pernah menjadi tokoh utama di masa lalu..


Tak perlu kamu repot-repot untuk bertanya, mengapa aku begitu tega untuk meninggalkanmu. Bukankah sudah jelas, aku pergi karena aku ingin pergi. Aku tak begitu ingat detil alasannya kenapa, karena yang aku ingat hari itu kita basah dan kuyup bersama. Ya, kita menggigil dalam derasnya hujan di sudut kota. Dan kamu tahu? Aku meninggalkanmu karena aku ingin kamu tak lagi mencariku. Aku meninggalkanmu karena aku ingin hujan menghapus jejak langkahku di hidupmu..


Ada rasa sesal saat kulihat hujan yang turun hari ini. Tapi tenang saja, seperti janjiku hari itu aku takan kembali. Seberapa besar pun rasa sesal yang kumiliki masih kalah besar dengan rasa sesak yang ada di hati. Sesak yang tak mau hilang, tetap tersimpan karena sebuah alasan yang tak pernah kita mengerti. Mungkin semuanya hanyalah masalah waktu. Tapi percayalah, selama sesak ini masih ada aku memilih untuk menjadi setia. Ya, aku setia untuk meninggalkanmu..


Dan tentang kutukan hujan yang selalu turun saat air matamu jatuh, kamu tak usah khawatir lagi. Semesta kemarin memberitahuku bahwa kutukan itu hanya berlaku untuk seseorang yang aku cintai. Sederhananya jika nanti kamu bukan lagi sosok yang paling aku kagumi, bersiaplah untuk merindukan hujan yang takkan turun meski kau menangis tanpa henti. Mungkin sebaliknya ketika hujan turun kamu yang akan menangis, mengingatku yang telah kamu buat pergi..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..