Selasa, 24 Maret 2015

*..Suara Dari Si Penunggu Hati(2)..*




"Apa kau tak pernah bosan?" Sebuah tanya membuyarkan lamunan seseorang yang sedang menatap kosong ke arah luar jendela.. 



"Bosan? Bosan kenapa?" Jawabnya tanpa menoleh pada lawan bicara di belakangnya..

"Kau masih menunggu seseorang itu datang, walaupun mungkin ia takkan pernah datang" Pungkas lawan bicaranya itu..

"Kau benar. Tapi aku masih percaya ia akan datang. Lalu kenapa aku harus bosan?" Hanya jawaban seperti bisikan itu yang keluar "Lagipula di luar hujan sedang deras, mungkin saja ia sedang berteduh dulu di suatu tempat. Kau pun juga tahu aku benci semua hal yang membuatnya basah. Apapun yang membuat wajah itu basah" Lanjutnya..

"Jadi kau masih percaya dan yakin ia akan datang? Seberapa besar kepercayaanmu itu? Seratus? Seribu? Atau bahkan lebih dari itu?" Sosok yang berdiri di belakang itu mengerenyitkan dahinya..

Diam sesaat. "Hhahaha" Terdengar tawa aneh. "Kau berlebihan. Mungkin tak sebesar yang kau 
katakan tadi."

"Lalu? Untuk apa kau masih menunggu?" Semakin bertanya tanya dengan jawaban dari sosok di depannya..

"Apa kau tuli?! Sudah kubilang karena aku masih percaya." Kali ini ia menoleh pada lawan bicara di belakangnya..

"Meskipun setelah hujan ia masih tak datang?"

"Ya.."

"Meskipun kau tahu saat ini ia sedang bersama yang lain?"

"Ya.."

"Meskipun sebenarnya kau tahu ia takkan pernah datang?"

"Ya! Ya! Ya! Dan, ya! Kau puas?! Apa aku harus mengiyakan setiap pertanyaanmu itu? Karena sebenarnya jawaban itu pula yang aku ingin dengar dari mulutnya dulu, saat ini, atau nanti" Entah darimana rintik hujan diluar tiba-tiba jatuh menetes di dalam ruangan itu..

Diam. Hening. Beberapa menit. "Lupakan! Hiraukan! Abaikan! Bukankah kata-kata itu yang pernah ia katakan padamu dulu. Lalu kenapa kau tak melalukannya?"

"Apa kau pikir itu mudah? Apa kau pikir ia yang mengendalikan hatiku? Apa kau pikir ia yang menyuruhku jatuh cinta padanya? Apa kau pikir ia yang menyuruhku untuk menunggu? Kau takkan pernah mengerti."

"Memang tidak. Tapi untuk apa menyiksa hati dan diri sendiri dengan menunggu sesuatu yang tak pasti?" Berusaha menenangkan sosok di dekat jendela..

"Apakah menurutmu aku bodoh? Katakan padaku apa aku ini bodoh?" Sosok itu kembali menatap kosong hujan di luar jendela..

"Jadi aku harus jujur padamu? Baiklah! Bagiku kau adalah orang terbodoh dari orang-orang bodoh yang pernah aku temui.."

"Jadi apakah menurutmu mencintai seseorang itu juga salah?"

"Memang tak salah, tapi menurutku caramu mencintainya saja yang salah."

"Salah? Dimana letak salahnya?"

Sosok itu menarik satu kursi di sudut ruangan dan duduk di sebelah jendela yang sama "Tentu saja salah. Kau mencintainya terlalu berlebihan. Coba kau pikir, seandainya ia kembali datang apa yang akan kau lakukan? Menggenggam erat tangannya agar ia tak lagi pergi? Dan akan hidup bahagia selamanya seperti ending semua cerita drama? Apa menurutmu itu tidak terdengar sangat menggelikan.." Kedua sosok itu sama-sama tertawa. Tawa yang tulus..

"Kau benar. Tapi bukan itu yang aku mau darinya. Aku hanya ingin ia bahagia, tersenyum, dan tertawa saat berada di sampingku. Ya hanya itu. Cukup itu saja.."

"Dan ketika ia tak temukan bahagia itu dalam dirimu biarkan ia menemukan bahagianya sendiri disana. Bukankah itu lebih baik?" Potongnya "Lihatlah hujan diluar, tak ada yang menyuruhnya datang tapi mereka selalu menemukan jalannya sendiri untuk datang. Tak ada yang menyuruhnya untuk pergi tapi mereka tahu kemana mereka harus pergi.."

Diam. Hening. Beberapa menit..

"Ya. Tapi datang dan perginya sebuah perasaan tak sesederhana datang dan perginya sebuah hujan.." Batinnya dalam hati..




























Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..