Minggu, 27 April 2014

*..Rindu Itu Sederhana..*


Dia. Dia hanyalah seorang wanita yang sederhana. Yang menangis ketika sedih menghampirinya. Yang tersenyum ketika kebahagiaan datang menyapa. Dia yang mengajariku banyak hal. Mengajariku bagaimana cara menari di bawah hujan, mengajariku bagaimana cara bertahan seperti karang, dan dia jugalah yang mengajariku untuk tetap memelihara mimpi yang lahir dalam kemustahilan. Sederhana sekali. Ya. Bukankah kita insan manusia memang selalu mendambakan kesederhanaan..?


Dia. Dia hanyalah seorang wanita yang sederhana. Senyumnya yang manis selalu menyimpan banyak tanda tanya, tatapannya yang tajam selalu memberi berjuta macam makna. Dan tiba-tiba saja sosoknya menjadi sangat penting dalam hati dan hari-hariku. Setiap saat hanya dia yang begitu betah menghuni ruang kecil di dalam kepalaku. Dan sejak saat itu dia tak lagi menjelma menjadi sesuatu yang sederhana..

Tak pernah lagi menjadi sederhana ketika aku harus menyimpan perasaan ini hanya dalam diam. Tak pernah lagi menjadi sederhana dan terasa menyesakan dada saat ku takut dia tak pernah merasakan hal yang sama. Terasa sulit dan semakin rumit ketika semesta ikut berkata dan tak pernah mengijinkan aku bersama dengannya lebih lama..

Ternyata diriku sendiri yang menjelma menjadi peran antagonis dalam cerita ini. Satu kesalahanku, aku yang menyeretnya kembali pada masa itu, aku yang melukainya karena egoku, aku yang memaksa ingatannya untuk mengenang hari-hari itu. Hari terakhir dimana dia menangis karena golonganku, lelaki sederhana. Hari terakhir dimana hujan turun di penghujung musim kemarau..

Aku yang sudah beberapa bulan ini meninggalkannya tanpa pamit, tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa isyarat dan lambaian tangan. Dosakah aku kalau masih saja memimpikannya? Beberapa bulan lalu, hanya dia yang mengajariku menghargai rintik hujan, menghargai deras rindunya, memaknai setiap butir-butir kesejukannya. Hujan kali ini, di suatu malam yang sepi benar-benar mengingatkanku pada rasa kehilangan, kehilangan sesuatu yang sebenarnya tak pernah benar benar kumiliki..

Tapi tunggu, sepertinya ada yang salah dengan kata 'Hilang' disini.Jika benar ada sesuatu yang hilang pasti saat ada aku berniat untuk mencari, aku pasti akan menemukannya. Tak peduli seberapa lama dan seberapa kerasnya aku mencari aku pasti akan menemukannya. Tapi jika memang aku yang harus mencari, aku harus mencarinya kemana? Sementara hujan selalu menghapus jejaknya..

Hujan beberapa hari ini memang deras sekali, apa dia pernah kedinginan? Tak perlu dia jawab! Aku tahu dingin sudah menjadi bagian dari dirinya dan juga sifatnya padaku. Tapi tenang saja, itu tak menjadi alasan kenapa aku harus  membencinya. Lalu untuk apa aku bertanya lagi tentang dirinya? Hmmmm.. Aku punya alasan sederhana untuk menjelaskan maksud dari tulisanku ini. Aku hanya rindu kepadanya. Itu saja? Sesederhana itu? Ya. Bukankah rindu itu memang selalu sederhana..?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..