Senin, 19 Mei 2014

*..Diantara Gerimis, Aku, Kamu, dan Juga Rinduku..*


Gerimis ini seperti aku dan rinduku.Ya, rindu. Rindu ini selalu indah dan tak mampu diretas dengan kata, walau tak selalu hadir setiap waktu tapi kehadirannya selalu beriring gerimis di kala senja. Dalam gerimis selalu ada nyanyian indah yang hanya bisa didengar oleh mereka yang sedang merindu. Entahlah. Ketika gerimis, aku merasakan hadirmu dalam butiran rintiknya. Bersama gerimis aku berharap kamu mampu merasakan ungkapan rinduku padamu..


Hanya gerimis tak sampai hujan. Namun awan kelabu menyebar secara merata. Menandakan gerimis kali ini akan memakan waktu yang lama. Di antara suara gerimis, ada dua hembusan nafas yang terpaut jarak. Ada aku dan kamu. Gadis bersurai merah jambu yang sedang memandang kesal pada tetes-tetes kecilnya. Ya, kau memakinya dalam hati. Seakan-akan ingin gerimis itu tak pernah ada di sepanjang hidupmu. Sepanjang ceritamu. Dan sepanjang jalan pulang menuju istana kecilmu..

Dan kamu justru malah berlindung. Berpayung. Entah kenapa kamu tak suka gerimis dan mendung. Kadang engkau berpura-pura takut pada setiap tetesnya, yang datang tanpa pernah kau undang. Tak pernah kau harapkan. Padahal ia hanya ingin menjagamu. Memelukmu. Tanpa harus membakarmu dengan rengkuhan sang mentari. Tanpa harus membasahimu dengan dekapan hujan yang kau benci..

Berapa kali engkau menuduh gerimis adalah petaka. Lari. Bersembunyi darinya. Padahal ia hanyalah senyum tulus yang ingin bertukar sapa. Hanya rindu kecil yang ingin bercengkrama. Gerimis tak pernah menyakiti. Ia datang dengan hati-hati. Satu per satu. Luruh perlahan menyentuh ujung kepalamu tanpa kamu sadari. Gerimis tak pernah berpura-pura. Ia jatuh di tempat seharusnya ia terjatuh. Tempatmu berpijak. Tempatmu kau injak. Sama seperti aku yang tak pernah berpura-pura jatuh cinta padamu. Jatuh dan kau injak. Aku yang semakin kau jauhi lantaran sibuk berpayung seorang diri..

Ah, ya. Aku dan kamu memang tak seakrab dulu. Setelah aku mendapati kamu, gadis kecilku yang tak lagi lugu. Tak sama lagi seperti dulu. Walaupun tatapanmu, senyumanmu, dan garis teduh di wajahmu terlihat tak berbeda di mataku. Ada kecanggungan saat ku bertemu denganmu terakhir kali. Walau aku sendiri tahu, kamu sudah memaafkanku. Kamu sendiri yang mengatakannya padaku. Dan kuharap telingaku tak tuli saat itu. Tapi aku merasa, jarak yang diberikanmu saat ini tak sama lagi seperti dulu. Kamu seperti menghindari kehadiranku. Tapi apa pedulimu apa peduliku. Kita lahir di tempat yang berbeda. Berdiri di tempat yang berbeda. Dan terjatuh pun di tempat yang berbeda..

Kuharap akan ada hari ketika engkau tahu bahwa gerimis mampu menebus rindu tepat saat rintik pertamanya jatuh di kerlip matamu. Juga saat gerimis mendera dan engkau mampu tertawa bersamanya. Karena di saat itu tiba semesta akan membawamu keatas awan bertemu denganku, untuk berbagi senyum, tawa dan mendekapmu tanpa menghiraukan masa lalu. Semesta tahu, engkau dan aku adalah kepergian dan jalan pulang yang entah bagaimanapun caranya akan bertemu. Sekarang atau nanti, tak ada yang tahu. Pastikan saja engkau tak lagi memaki gerimis di balik payung kecilmu. Selamat bertemu suatu hari nanti, saat waktu dan semesta bersepakat menenun gerimis dan rindu pada kisahmu..

Gerimis. Tak pernah kutahu dimana ujungnya yang selalu kulihat hanya dimana jatuhnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..