Minggu, 20 April 2014

*..Hujan Di Persimpangan Jalan(4)..*


Sekarang hujan sudah reda. Dan senja. Aku masih berdiri disini. Kuyup. Disamping tembok batu. Sepanjang hujan senja ini, aku bicara dengan tembok itu. Terkadang saling memeluk ketika dingin hampir menggigil. Senja ini kau tak datang lagi dan pikiranku sibuk menerka-nerka..

Barangkali sakit, begitu bisik hujan berulang-ulang menggedor kepalaku. Tidak. Kau tak boleh sakit. Itulah sebabnya aku bertahan dibawah hujan, agar sakit itu hinggap di tubuhku dan meninggalkan tubuhmu. Aku percaya bahwa sakit seseorang dapat digantikan oleh orang lain. Aku tahu tugasku di dunia adalah untuk sakit. Sedang tugasmu di dunia adalah untuk cantik..

Barangkali sedang bertemu cintanya, begitu ucap tembok yang sedang kupeluk. Tembok ini memang tak tahu terima kasih. Aku melepaskan pelukan dan memukulnya berulang kali. Rasakan. Kau tak boleh menemui cintamu. Tidak. Kau hanya boleh cantik, tak lebih dari itu. Namun tembok ini benar-benar tak tahu terima kasih. Semakin keras kupukul, semakin nyaring ucapannya. Semakin nyaring, semakin sakit pula hati ini..

Sekarang hujan sudah reda. Dan senja. Senja, hanya bias yang sebentar lagi lenyap. Kupandangi langit. Apakah disana juga ada yang berdiri menanti seseorang? Apakah ada persimpangan jalan diatas sana? Persimpangan jalan yang setiap hari dilalui gadis cantik. Dan di ujung persimpangan ada seseorang yang setia menantinya seperti aku. Seandainya ada, aku ingin berkenalan dengannya. Mungkin kisahnya tak jauh beda dari kisahku..

Sekarang hujan sudah reda. Dan senja. Putri Hujan, kau benar-benar tak nampak kembali. Kau lenyap begitu saja. Padahal aku tahu rumahmu hanya berjarak beberapa puluh meter dari tempatku berdiri. Cat hijau dengan kayu jendela berwarna cokelat. Di dalam kamarmu dindingnya berwarna tirus dengan banyak boneka berwarna merah muda berserakan di mana-mana. Kau sering tertidur dengan piyama berwarna putih, seputih hatimu..

Mengingatmu ternyata begitu menikam. Aku memaki tembok sandaranku tapi tak meninggalkannya. Aku mengutuk genangan hujan tapi tak dapat menyingkirkannya. Senja kesekian kali tanpa senyum dan hadirmu. Kali ini aku hanya berdiri, terus saja berdiri di persimpangan jalan. Membangun ingatan demi ingatan tentangmu..

Barangkali benar bisik hujan, barangkali benar ucap tembok batu. Aku tahu hujan dan tembok itu adalah bagian dari diriku. Ucapan mereka adalah ucapan diriku sendiri. Kecemasan yang muncul karena kehilangan dirimu..

Senja kian tenggelam. Hanya ada beberapa burung yang masih sibuk mengejar jingga. Terburu-buru. Aku membayangkan jika saja ada salah satu burung yang jatuh dari ketinggian itu, pastinya tak akan ada yang tahu. Mereka tebang seperti tak mengenal kata lelah. Seperti cinta. Ya, jika saja ada yang jatuh , tak ada yang tahu. Seperti aku yang jatuh cinta padamu. Jatuh cinta padamu. Dan tak ada yang tahu..

Lagi-lagi aku menatap langit yang mulai menetaskan bintang. Kubayangkan seseorang yang tinggal di angkasa sana. Kesepian dan jatuh cinta. Jatuh cinta dan sunyi. Seperti aku. Seperti diriku, aku pikir pasti ada yang sepertiku. Berdiri di persimpangan jalan, tanpa harapan dan terluka. Dan aku semakin mecintaimu. Inilah aku, inilah aku bisikku pada langit. Pada dirimu..

Sekarang hujan sudah reda. Dan senja. Entah sampai kapan lelahku akan bertahan. Namun ingatan tentangmu adalah kekuatan bagiku untuk tetap berdiri meski dengan tertatih dan terhuyung. Tanganku berpegangan pada tembok tempatku bersandar. Seandainya kau peka. Ada surat panjang yang kutulis di tembok ini. Untukmu. Kalimat yang penuh coretan. Setiap senja setelah hujan aku menulisnya untukmu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..