Minggu, 20 April 2014

*..Hujan Di Persimpangan Jalan(3)..*


Bukan aku yang membawa hujan pagi ini. Bukan pula hujan bermaksud menjadi kado ulang tahun untukmu dariku. Bahkan aku lupa membawa mantel hujan untuk menepis gerimis dari wajahku. Barangkali, hujan ingin menggantikan 22 batang lilin yang mestinya dinyalakan seseorang saat itu. Ah, ketimbang meniup lilin, memang lebih pantas rasanya jika kau merayakan ulang tahun dengan meniup hujan saja..



Hujan.. Bagaimana hujan bisa begitu membuat diriku jatuh cinta pada rinai air yang jatuh membasahi bumi. Ribuan tetes air yang membuat beberapa orang akan berlari terburu-buru menghindarinya. Hujan juga yang membuatku begitu jatuh cinta, karena setiap kali hujan turun memori-memori tua itu akan muncul dan aku akan tersenyum membayangkan wajah kamu. Dan terima kasih, karena sekarang aku begitu mencintai hujan karenamu..

Sudah berulang kali kukatakan, aku menyukai hujan, juga kamu. Namun dibalik semua rasa itu Tuhan selalu bilang "Tidak".Setiap tulisan fiksi selalu tercipta berkatmu, semua memori tua selalu mampu membuat jemariku bergerak lincah mengetik huruf-huruf dan menjadikannya sebuah cerita. Semua berkatmu, kamu yang pada akhirnya ku panggil "Putri Hujan". Tidak ada maksud apapun dari tulisanku kali ini. Semuanya hanya sekedar fiksi, jika benar dirimu hanya menganggapnya sebagai sebuah fiksi..

Sungguh, bukan aku yang membawa hujan pagi ini. Bahkan aku terlambat membawa kado ulang tahun untukmu. Kita berteduh sejenak sembari saling bercerita tentang betapa menakutkannya rasa rindu ingin bertemu denganmu. Karena ketika hujan turun semua kenangan tentangmu yang kusembunyikan dengan susah payah kembali lagi dan sepertinya mencari kehadiranmu, apakah artinya aku merindukanmu? Aku rasa tak sesederhana itu. Karena hanya ada sedikit kerinduan hanya saja ku tak dapat merengkuhnya dengan harga diri yang tak berguna ini. Maafkan mulutku. Mestinya cerita macam itu tak patut kau dengar dari seseorang yang terlambat membawakanmu sekotak kado ulang tahun..

Aku tahu saat ini adalah akhirnya aku tahu semua tinggal penyesalan sekarang aku tahu semua hanya seperti itu. Entah apa yang harus kulakukan dengan sesuatu yang sudah berakhir. Aku seperti orang bodoh yang terlambat menyadari. Karena hujan selalu turun selalu turun saat aku ada disini menunggumu, hal ini terus berulang seolah menjadi pertanda bahwa kehadiranku hanya membuat langitmu menangis ataukah menjadi pertanda jika aku harus menunggu lebih lama. Entahlah tapi satu yang pasti, saat hujan berhenti akupun akan ikut berhenti menunggumu..

Selamat ulang tahun Putri Hujan, beribu doa yang baik selalu ku lantunkan untukmu padaNya Penguasa Langit dimana kita berteduh. Kita selalu berada di bawah langit yang sama, namun kita tidak pernah bisa merasakan mentari, bulan juga bintang yang sama. Kamu pernah mampir dalam kehidupanku yang tidak begitu penting mengubahku menjadi lebih baik, membuatku lebih baik lagi. Menjadikanku dari Angin yang tak tahu arah menjadi Angin yang hanya punya satu arah, menujumu..

Aku tahu semua karena Takdir namun jika Takdir tidak mengikutsertakan kamu dalam perubahanku diriku pasti masih jadi seperti Angin yang dulu. Selamat ulang tahun Putri Hujan, tetap bahagia karena akhir yang bahagia sudah Semesta atur untukmu. Dia yang menyayangimu lebih dari yang kamu tahu. Waktu yang kumiliki makin cepat berlalu. Jika ini adalah hari yang benar-benar kau suka, aku tak ingin merampas senyummu karena kehadiranku. Dengan sengaja melangkahkan kaki tanpa ada maksud berusaha untuk melarikan diri. Sekotak kado kecil untukmu aku letakkan disini, ditempat dimana aku menunggumu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..