Saturday, 27 July 2013

*..Dear Diary Patah Hati(5)..*


Dear diary...



Maaf, mungkin kamu bosan ku menuliskan kata itu. Maaf mungkin kata itu juga yang harus kukatakan padanya. Dan sekali lagi maaf untuk semua hal yang tak berarti selama ini. Meski ku tahu kata maaf tak bisa lagi mengembalikan air mata dan rasa sakit yang terlanjur telah tercipta diantara kisah kami berdua..

Mungkin hal ini berat buatku ceritakan kepadamu My diary, dia juga telah membuatku sedikit kecewa. Terlalu cepat dia berubah. Hmhmm, mungkin perasaan ini memang terlalu dalam padanya, tapi ku tak tahu harus mengadu kemana. Kurasa dia mulai menjaga jarak denganku dan itu membuatku sedih. Tapi di satu sisi aku mengerti karena ku rasa dia tak mau membuatku kecewa. Aku benar-benar merasakan pengertiannya bahkan di saat seperti ini..

Aku tak tahu kenapa ku menangis, tapi aku sedih ketika melihatnya sakit dan tersakiti. Aku merasakan apa yang dia rasakan saat menerima itu. Aku tak pernah ingin dia di sakiti apalagi sakitnya itu karena aku, aku hanya ingin dia bahagia tidak lebih. Aku bahagia saat melihatnya tertawa bahagia. Aku menyayanginya namun tak pernah ingin memilikinya lebih dari ini. Aku hanya ingin melihat senyum itu keluar dari bibirnya walau ku tahu senyum itu tak pernah untukku dan karena aku. Namun aku bahagia karena senyuman itu..

Aku merasa sayang ini benar-benar hadir sebagai cinta. Rasa tak ingin dia hilang sedikitpun dari hidupku. Mengapa begini? Aku tak pernah ingin begini karena ku tahu dia menyayangiku hanya sebatas sebagai teman tidak pernah lebih sedikitpun. Cinta yang salah kurasa! Aku tak peduli bila dia tak pernah mencintaiku yang aku tahu aku mencintainya. Aku tak pernah mengerti mengapa seperti ini. Yaa, hanya dia. Aku menyayanginya walaupun dia tak pernah membalas rasa sayangku padanya. Dan pernah ku berfikir jika mencintainya memang terlalu sakit untukku lakukan, aku akan mencoba membencinya walau ku tahu ku takkan bisa. "Aku mungkin sakit jika melihatnya tersakiti. Kumohon jangan pernah sakiti dirinya jika tak ingin aku sakit dan jangan lukai dirinya jika tak ingin melihatku menangis." Kamu tahu my diary? Kata-kata itu yang selalu kuucapkan kepada kedua malaikat yang setia menjaga di sampingnya, saat dia tersenyum ketika pandanganku mengarah padanya seolah-olah aku ingin senyum itu takkan pernah hilang darinya. Aku mencintainya, memang benar-benar mencintainya..

Aaaaarrrrrggghhhh, aku bingung dengan hatiku, hatinya, dan cinta ini. Semuanya tak pernah jelas karena akupun tak pernah membuatnya menjadi lebih jelas. Yaa, kemarin saat aku berada di hadapannya, saat dia menatapku, saat itu aku merasakannya. Merasakan getaran cinta yang kembali hadir di hatiku, memupuk subur bunga lili putih yang kutanam di hatiku. Namun sayang, bunga itu punya musim tumbuh, kadang bunga itu mekar namun kadang bunga itu layu. Entah sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini dengan wanita yang tak pernah menginginkanku hadir di hidupnya, wanita yang tak pernah mengerti akan perasaanku terhadapnya..

Aku tak pernah bisa menjadi diriku di hadapannya sebagaimana aku takut untuk mengakui aku menyayanginya. Mungkin dia tahu aku menyayanginya namun dia tak tahu rasa yang lebih kuat dari sekedar rasa sayangku padanya. Harusnya aku pun sadar sakitnya mencintai tanpa dicintai. Dia, mungkin mengerti, namun hanya sedikit, sedikit sekali yang dia mengerti tentang aku. Aku tak sanggup menatapnya dan aku rasa dia juga tak ingin lagi menatapku. Hmhmm, memendam rasa itu memang sakit, apalagi terhadap seseorang yang sangat kita sayangi. Aku lelah terus begini selalu menahan pedih hati ketika melihatnya tersenyum diantara tangisan hatiku..

Jujur aku ingin selalu menjaganya di saat dia sakit, di saat dia sedih, dan di saat dia sendiri. Tapi aku sadar bukan aku yang dia harapkan ada di sampingnya saat itu. Yaa, aku memang pandai mengelak saat aku mengatakan kata "Biarlah!!" bukan berarti aku tak peduli tapi aku mencoba menutupi rasa yang terlalu dalam padanya agar dia tak tahu rasa hatiku yang sebenarnya. Baginya mungkin kata itu terdengar kejam namun bagiku kata itu sangatlah berarti, ini caraku untuk sedikit tak mempedulikannya..

Mungkin aku memang salah atau mungkin aku yang terlalu benar untuk mengerti keadaannya dengan caraku. Kuharap dia mengerti mengapa ku begini. Mungkin aku hanyalah gangguan baginya. Yaa, aku hanya ingin mencoba memperhatikannya namun jika dia tak inginkan perhatian ini aku takkan pernah memberikannya lagi. Dia yang selalu ada di hatiku, dia harus tahu dia menggantikan sosok sempurna yang ada di hidupku dulu. Aku bingung harus bagaimana. Sebenarnya aku tak mau kehilangannya, apa yang harus kulakukan? Aku hanya ingin dia bahagia, benar-benar bahagia..

Aku tak pernah tahu apa yang aku pikirkan. Aku hanya inginkan dia bahagia. Aku akan pergi untuk kebahagiaannya. Untuk senyumnya. Aku akan berkorban untuknya. Aku yang akan menjauh darinya jadi tak perlu dia repot-repot menjauh dariku, tak perlu dia susah-susah untuk membangun dinding pemisah diantara kami. Tanpa itupun aku mengerti aku yang harus pergi dari hidupnya. Biarkan seolah-olah aku yang salah, biarkan seolah-olah aku yang bodoh. Kuyakin ini jalan terbaik yang harus kubuat agar dirinya bahagia. Biarkan aku menangis disini dan menutup mata untuk melihatnya. Percayalah, aku akan bahagia jika dia juga bahagia. Benar apa yang pernah kamu katakan My Diary, aku memang terlalu mengharapkan seseorang dan seseorang itu dirinya..

Bukankah telah kujelaskan bahwa cinta itu adalah pengorbanan? Dan ini bukti cintaku padanya. Aku akan berkorban untuknya. Biarkan aku menjauh karena telah lama aku inginkan pergi darinya. Hanya waktu itu aku tak mampu meninggalkannya karena mata ini masih bisa melihatnya dan tangan ini masih bisa menyentuhnya. Namun kini aku yakinkan untuk pergi darinya. Karena aku hanya akan menyakitinya. Dan dia akan bahagia tanpa aku..

Yaa, tampaknya aku memang harus menjauhinya, demi kebahagiaannya, aku harus bisa karena aku dan dia juga tak ditakdirkan bersama. Aku harus mampu menghapus rasa cinta ini untuknya dan aku akan pergi jauh darinya sejauh mungkin. Dan kuharap sang waktu akan membantunya menemukan cinta terbaiknya. Dan kutahu itu bukan aku. Aku hanya pernah bermimpi untuk memilikinya sebatas teman terbaik tidak pernah lebih dari itu. Aku hanya ingin dia ada saat aku memerlukan, dan akupun akan ada saat dia memerlukan. Tapi itu semua hanya sebatas mimpi saat aku kembali tersadar aku harus benar-benar pergi..

Aku mungkin sakit saat menulis ini. Aku mungkin terluka namun aku bahagia. Aku bahagia untuk tawanya, untuk senyumnya. Biarkan aku yang menanggung sakitnya karena ini yang aku mau. Hanya untuk kebahagiaannya. Untuk senyum yang selalu aku inginkan namun tak pernah untukku. Aku ikhlas untuk semuanya. Untuk dirinya dan untuk cintanya. Untuk yang aku sayangi. Hanya dia yang selalu kuinginkan namun tak pernah kuungkapkan apalagi kupaksakan. Aku menyayanginya, sangat menyayanginya..

Kurasa dia akan mengerti mengapa aku menulis ini untuknya, hanya agar dia tahu betapa sakitnya aku menjadi diriku yang menyayanginya. Alasan kenapa aku ingin pergi darinya, alasan kenapa aku ingin menjauh dari hidupnya. Aku mungkin akan terluka jika dia terluka namun aku lebih mampu menahan sakitku daripada harus melihatnya tersakiti setiap kali dia bersamaku. Kamu pikir aku sanggup terus menerus melihatnya tersakiti? Aku tak sanggup!! Aku juga sakit bukan dia saja. Mungkin dia memang masih bisa tersenyum karena rasa sakit itu, tapi aku? Aku yang menangis melihatnya tersakiti karena aku. Aku yang tersiksa karena keegoisanku sendiri bukan dia. Aku juga tak mengerti mengapa begini, dia mungkin tersakiti tapi aku lebih tersakiti..

Aku pergi bukan karena aku kecewa karena tak bisa bersamanya. Namun jalan ini yang harus kupilih untuk hidup bahagianya. Aku sadar dan dia akan mengerti akan jalan yang aku ambil untuk hidupnya, untuk keinginannya, dan untuk sesuatu yang bisa membuatnya bahagia. Ku harap nanti jika dia membaca ini, dia akan diam dan tak membicarakannya kepada yang lain cukup hanya dia yang tahu, Tuhan dan aku. Yaa, dia mungkin tak akan pernah bisa lagi melihatku setelah ini. Anggap aku hanya angin yang pernah menyejukannya dulu, dan dia harus mencari angin lain untuknya bisa bernafas. Aku merasa percuma jika aku terus ada untuknya karena hanya akan menambah bebannya dan juga sakit hatiku karena dia takkan pernah mengerti arti setiap tangisanku. Arti setiap air mataku yang jatuh karena melihatnya tersakiti, aku yang tersakiti bukan dia. Aku bukan kecewa, hanya takkan rela melihatnya bersama yang lain. Aku juga tak ingin memilikinya lagi hanya tak rela jika dia bersama yang lain. Hanya itu takkan pernah lebih. Jujur, aku hanya kecewa dengan jarak dia buat, dan itu yang membuatku semakin ingin menjauh darinya..

Jika rasa ini benar-benar hilang aku tak tahu bagaimana kelanjutanku menyayanginya, benar-benar tak seperti yang kuharapkan. Aku juga tak akan tahu bagaimana akhirnya. Yaa, aku hanya berharap dia akan bahagia pada akhirnya. Kuyakin berpisah dengannya akan membuatku dan dia lebih baik, sedikit ataupun banyak. Aku juga tak harus lagi menahan hati ini karena melihatnya dekat bersama lelaki lain. Aku juga tak perlu menunggu saat dia tak membalas pesanku karena kuyakin akupun tak penting baginya..

Mungkin suatu saat cerita ini akan kuberikan untuknya, pada saatnya nanti saat aku telah pergi jauh darinya, dan akan kubiarkan dia tahu rasa yang ada pada hatiku. Dan kuingin dia simpan ini sebagai kenangan untuknya bahwa ada orang yang pernah dengan tulus menyayanginya. Kata-kataku salah, aku sangat menyayanginya. Bukankah telah aku buktikan dengan apa yang dia inginkan kuusahakan ada, walaupun itu tak berhasil membuatnya bahagia. Yaa, akhirnya aku putuskan untuk tak lagi ada untuknya setelah dia membaca ini. Aku berusaha menutupi sakitnya hati ini saat dia berubah mengacuhkanku. Cukup aku yang merasakan sakit ini bukan dia. Karena kuyakin lebih sakit mencoba memiliki rasanya daripada membunuh rasaku. Aku lebih sanggup membunuh debaran hatiku daripada harus menahan kecewanya hati karena sikapnya. yaa, inilah aku dan kuyakin dia mengerti..

Sebelumnya aku akan meminta maaf terlebih dahulu, namun bukan karena ku akan meninggalkan hidupnya namun karena ku telah hadir dan menyakiti hatinya. Yaa, aku mungkin hanya akan bisa meminta maaf, dan mungkin dia akan membenciku setelah ini seumur hidupnya. Tapi dia harus sadar lebih sakit lagi mengharapnya yang kutahu tak pernah mencintaiku. Aku memendamnya sampai akhir, dan akan terus kupendam sampai aku pergi. Dan hanya cerita ini yang akan menjadi saksi bahwa aku menyayanginya. Aku terluka, luka yang terlanjur dalam. Kuyakin kamu akan kagum padaku my diary, karena aku mampu menutup lukaku itu dengan senyum yang kukembangkan dihadapannya, senyum yang seolah tulus namun sebenarnya senyum itu menahan rasaku terhadapnya..

Terima kasih untuknya, yang selama ini sudah ada untukku. Terima kasih untuk semuanya. Sejujurnya ku tak pernah ingin kehilangannya. Apa yang dia minta kuusahakan ada, apa yang dia harapkan aku inginkan menjadi miliknya termasuk cinta yang dia cari. Aku janji suatu saat dia akan menemukannya, cinta yang akan membuatnya bahagia. Aku juga akan bahagia untuknya saat itu walaupun saat itu aku sudah tak ada lagi disampingnya. Mengertilah mengapa aku pergi, sakit rasanya melihat seseorang yang kita sayangi menjadi milik orang lain. Jujur saja mencintainya itu lebih sakit daripada rasa sakit yang pernah kubayangkan. Bukan aku egois, tapi inilah pilihan yang ada dihidupku. Pahamilah my diary, kuyakin kedewasaannya akan membiarkan dia mengerti sendiri dengan jalanku. Jalan yang kuambil karenanya, bukan karena kecewa namun karena hanya inginkan dia bahagia. Tuhan terima kasih untuk kehadirannya, itu sangat berharga untukku, membuatku bisa mengenal lebih dalam apa itu arti cinta..

7 comments:

  1. ijin copas Bro Budi, coretannya kena banget ke gue

    ReplyDelete
  2. jempol bnget.. nyentuh ama suasana saat ini .. thanks

    ReplyDelete
  3. sedihhh nyesek 😭😭😭

    ReplyDelete
  4. sedihhh nyesek 😭😭😭

    ReplyDelete
  5. sedihhh nyesek 😭😭😭

    ReplyDelete
  6. Ijin copas ya bro buat blog ane diaryuntung.blogspot.com :)

    ReplyDelete