Senin, 13 Juli 2015

*..Surat Tak Beralamat..*

Teruntuk siapa saja yang membaca surat ini..



Selamat malam..


Malam ini aku menulis dengan perasaan yang entah harus kusebut apa. Sebenarnya ku ingin langsung bertamu ke hati gadis itu. Ingin bisa duduk di sampingnya dan memulai percakapan kecil tentang apa saja. Terutama tentang kabarnya yang belakangan ini memilih buta dan tuli. Akan tetapi aku cemas jika seandainya ku memilih bertamu ke hati gadis itu, hal ini akan menyita waktunya beberapa saat sementara aku paham sekali gadis itu terlalu sibuk meski hanya untuk mendengar ceritaku apalagi untuk membaca sepucuk surat tak beralamat ini..


Frekuensi percakapan kami yang makin jarang. Aku seperti butuh suatu alasan hanya untuk merangkai sebuah kalimat beralinea sementara ia hanya membalasnya dengan sebuah kata yang singkat. Hingga kemudian gadis itu sama sekali tak lagi punya waktu untuk membalas pesan-pesanku, jujur membuatku sungguh kehilangan. Entah karena apa gadis itu lantas memilih sunyi dan merawat setoples diam di bibirnya hingga kini. Ah, barangkali gadis itu ingin benar-benar melupakan rasa sakit hati yang dulu pernah mampir dan melubangi dadanya. Sekaligus ingin menghapus keberadaanku, si penyebab itu semua..


Pernah di suatu malam, aku mengajukan tanya padanya "Apakah kau sudah mulai melupakanku sekarang?" Saya ingat betul potongan jawabannya saat itu "Aku sama sekali tak melupakanmu" katanya. Saat itu aku hanya pura pura percaya dengan perkataannya. Tapi coba tebak, apa kalian percaya jika aku kekal di dalam ingatannya? Jika tulisan ini diumpamakan sebuah buku, saya seperti menandai halaman yang hendak saya ulang ulang membacanya dengan melipat ujung kertasnya. Sementara pada kenyataannya, gadis itu sama sekali tak ingin lagi mendengar aku membaca alinea sama yang kutandai itu..


Dusta jika ku katakan bila aku telah bisa melupakannya. Setiap pagi ketika ku menyeduh secangkir kopi, kerap kali aku bertanya tanya dalam hati apakah gadis itu telah sempat menyesap kopi di pagi yang sama ketika saya mengingatnya? Pukul tujuh malam, ketika saya menatap langit yang mulai gelap, saat itu juga aku bertanya tanya apakah gadis itu telah tiba di rumah untuk melepas lelah? Demikian juga ketika malam makin larut, dalam baring aku menerka nerka, apakah gadis itu punya rasa yang sama seperti rasaku, merindu?


Sungguh lucu. Kini, tinggal aku sendiri yang tetap mencoba mengeja tanggal tanggal pertemuan dan percakapan percakapan manis yang pelan pelan memudar. Yah, pada akhirnya saya hanyalah sebuah nama baginya. Yang tertinggal hanya nama bukan kenangan tentang sebuah cerita. Seperti sajak-sajak yang ditinggalkan pembaca. Kini tinggal aku yang mempuisikan kehilangan dengan sempurna. Biarlah. Tak apa. Meski pun hingga kini, nama gadis itu dan doa doa sangat akrab dan tak sekalipun luput dari ucap..


Maka untuk siapa saja yang membaca surat ini, bolehkah saya minta bantuan kalian? Tolong sampaikan pada gadis itu, bila kabar saya saat ini baik baik saja. Tolong bilang pada gadis itu, jagalah kesehatannya meski kini musim tak lagi seramah dulu. Katakan, jangan sampai ia jatuh sakit. Bilang pada gadis itu, jangan pernah lupa untuk bahagia, tak peduli dengan siapa ia membaginya, selama ia ada di dalamnya. Sampaikan pada gadis itu, di sini ada yang lebih hujan dari gerimis awal bulan juni, yaitu mata yang sembab dan rindu yang hilang alamat..


Tolong ucapkan maaf padanya. Katakan padanya, maaf aku tak menyiapkan kado istimewa berpita jingga untuk kepulangannya hari itu. Juga tak ada ribuan puisi yang ku lantunkan baginya. Aku hanya punya selaksa rindu sejak ia tak lagi mau bertamu..


Sampaikan padanya, di sini aku dapat mendengar doa doa yang ia lantunkan di tengah derap hujan yang jatuh semalam. Yang ia bisikan sepelan gerimis yang turun perlahan-lahan. Katakan padanya, semalam aku ada. Disampingnya, menemaninya mengulangi doa-doa harapan untuk dirinya, untuk keluarganya, dan untuk mereka yang ia cinta. Dan aku tak terkejut ketika aku tak ada dalam daftarnya..


Akhir kata, sampaikan juga pada gadis itu. Di sini di atas kepala, seekor laba laba membuat sarangnya selama aku menunggunya sampai ia tak lagi menjahitkan diam di bibirnya yang dahulu akrab dengan sebuah sapa..


Terima kasih..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..