Senin, 13 Juli 2015

*..Apakah Kau Melihatku(2)..*

Dia berhenti disana, melihat ke arahku tapi tidak pada sosokku. Dia berdiri disana, menatap ke arahku tapi tidak pada tempatku..



Seharusnya aku keluar saja dari tempat persembunyianku. Membiarkan matanya melihat ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari sini. Di balik sebuah tembok rapuh tepat di hadapannya. Tapi entahlah, hanya saja aku butuh lebih dari sekedar persiapan. Sekedar pengendalian lebih tepatnya. Ya. Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya jantungku berdetak menggila tiap kali menatap wajah cantiknya dihembus angin senja. Kau tidak tahu bagaimana rasanya darahku berdesir tiap kali melihat semburat jingga itu selalu gagal mengalahkan pesonanya. Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya perasaanku tiba-tiba menghangat ketika melihat senyumnya. Ia menjadi yang paling indah di antara bunga yang berguguran di kala senja. Ia menjadi yang paling indah diantara alunan lagu yang bersenandung di balik jingga..


"Aku menyukaimu" Bisikku. Terus dan terus mengulanginya. Menirukan dialog pemeran utama dari sebuah cerita drama. Mengumpulkan segala keberanian untuk mengatakan rahasia terbesar yang kupendam selama ini. Oh tidak, aku salah. Sudah bukan menjadi rahasia lagi sebenarnya. Dia, bahkan seluruh orang di sekitar kami tahu dengan benar bagaimana perasaanku untuknya. Aku menguatkan diriku sendiri. Bukan untuk bersiap sakit hati ketika harus mendengar jawaban yang sama yang dilayangkan olehnya tempo hari, tetapi lebih kepada menahan tubuhku sendiri agar tidak melonjak kegirangan saat sepasang sudut bibir itu tertarik ke atas, menyapaku. Menyebut namaku. Ya, aku berharap ia masih ingat dengan namaku..


Aku sudah bersiap mempertaruhkan segalanya untuk membuatnya melihatku. Membuatnya sadar bahwa aku ada untuknya. Aku sudah mempertaruhkan keberanianku, harga diriku dan kewarasanku untuknya. Aku tidak tahu apakah yang kulakukan saat ini adalah suatu kebodohan? Karena yang aku tahu gadis ini adalah satu-satunya alasanku untuk tetap menarik paru-paruku dan bernafas setiap harinya, menjadi obyek favoritku setiap kali aku berhasil membuka mata di pagi hari dan melarikan diri dari mimpi-mimpi burukku tiap malam. Kupikir seharusnya aku tidak cukup gila untuk membuat dirinya menjadi prioritas utama..


Aku menghela napas, maju satu langkah untuk mendekatinya. Sepasang bola mata itu tiba-tiba menatap kearahku. Tajam. Aku berbalik, memutar tubuhku membelakanginya. Menarik kedua kaki ku yang masih tercekat, berusaha menjauh. Ternyata aku tak sanggup. Aku masih tak sanggup untuk mendekatinya. Dia masih terlalu menyilaukan di mataku. Gadis itu adalah matahari, satu-satunya sumber kehidupan dalam tata suryaku. Dialah oksigen yang menyusup ke dalam paru-paruku dan dialah darah yang mengalir dalam nadiku, menjadi satu-satunya penopang kehidupanku. Membuatku tetap bertahan hidup dengan sinarnya. Hanya saja aku masih butuh jarak untuk melihatnya, mengagungkannya..


Aku memang tidak menatap wajahnya saat ini. Tentu saja, aku sedang berdiri membelakanginya. Tapi aku tahu dia ada di sana, menatap punggungku yang mulai menjauh darinya. Aku tahu karena dia akan selalu seperti itu. Terus menatapku hingga aku benar-benar menghilang di persimpangan jalan. Dia memang membenciku tapi aku tahu dia memperhatikanku dan seperti yang tadi kukatakan dia akan selalu begitu. Aku sadar dia masih ada di sana, jadi aku memutuskan untuk berhenti melangkah, menoleh, menatapnya dari kejauhan, menyunggingkan senyuman terbaikku untuknya. Merekam momen-momen terbaik ini dalam ingatanku sebaik-baiknya. Sebab setelah ini aku ragu apakah aku masih bisa melihatnya lagi atau tidak..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..