Senin, 15 Desember 2014

*..Kado Kecil Yang Terbuang..*


Semilir angin malam tak mampu mengusik lamunan. Tatapanku terpaku pada sebuah kotak kecil yang kugenggam sepanjang perjalanan. Aku tak tahu untuk apa aku masih menyimpannya? Kepada siapa aku akan menyerahkannya? Dan mengapa sulit bagiku untuk membuangnya..?


Kembali aku menerawang, menatap langit hitam tanpa bintang. Aku membayangkan andai dia ada di atas sana, apakah aku mampu melemparkan kotak kecil ini tepat di kepalanya? Tepat di depan wajahnya? Atau apakah aku berani terbang menghampirinya dengan sayapku yang belum juga tumbuh? Sebuah pertanyaan yang takkan pernah berakhir, pertanyaan terlama sepanjang putaran jarum jam yang kuletakkan diatas pasir. Hingga aku menyadari sesuatu. Aku membeku bersama waktu..

Hembusan nafas panjang menemani tiap pertanyaan tanpa jawaban yang menemani detik-detik yang terabaikan. Dalam hati aku bicara. Semesta, untuk kesekian kalinya aku menjanjikan sesuatu pada seseorang. Salahkah jika aku harus kembali membuangnya? Aku dilema. Ya benar aku dilema. Bukan, ini bukan dilema. Ini hanyalah tentang sebuah pertanyaan. Pertanyaan tanpa jawaban..

Dalam hati aku kembali bicara, Semesta, kali ini aku merasa jatuh tanpa kepingan. Remuk tanpa kerutan. Bukan patah hati. Bukan patah semangat. Aku hanya kecewa. Lebih tepatnya kecewa karena dia. Semesta, bagaimana aku bisa mengatakan apa yang ingin ku katakan? Sekeras-kerasnya aku berteriak hanya tawa yang aku dengar sebagai balasan. Setinggi tingginya aku mendaki dia hanya akan menatapku dengan tatapannya yang aneh. Ya, mungkin karena aku aneh di matanya. Tingkahku aneh di benaknya. Aku seperti tanpa arti untuknya. Aku yang ia anggap tak beda jauh dengan mereka. Andai aku tahu itu dari dulu. Aku takkan pernah masuk dalam kehidupannya, dan aku takkan memasukkannya dalam kehidupanku..

Kembali aku bercengkrama dengan logika. Untuk apa kotak ini? Untuk siapa? Dia tidak pernah menganggapku ada. Dia hanya menganggapku sebagai salah satu dari butiran pasir yang ia simpan dalam botol kaca, yang terombang ambing di atas deburan ombak yang takkan pernah menyentuh pelabuhan hatinya. Tanpa pernah dia tahu. Iya dia yang memang tak pernah tahu. Bukan, mungkin dia saja yang tak pernah sadar..

Kembali ku menatap kado kecil yang isinya adalah barang yang dia suka. Kuharap begitu. Ah, aku sudah tak mampu berfikir lagi. Aku sudah tak mampu menggunakan rasa ini lagi. Tanpa teriakan aku melemparnya, membuangnya bersama janji-janji dan harapan yang sepertinya hanyalah cerminan kebodohan yang kumiliki. Maaf aku tak bisa. Maaf aku tak mampu. Maaf jika aku bukan siapa-siapa..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..