Rabu, 17 Desember 2014

*..Kepergianmu..*



Kali ini aku menulis dengan suasana hati yang tak kumengerti. Sulit sekali untuk mengungkapkan segalanya, sulit sekali untuk menyatukan rasa dengan kata. Aku menulis ini dengan sangat bersusah payah diatas lembar kertas yang masih basah. Dan saat aku menulis ini sudah tak banyak lagi imajinasi, inspirasi, dan frasa kata yang kumiliki. Jujur saja, kali ini aku menulis dengan keadaan otakku yang telah rusak parah, hatiku yang telah terlanjur patah. Aku bahkan tak tahu, kemana arah dan tujuan tulisanku. Ia telah pergi, itu yang kutahu..


Ketika menulis ini, aku bertanya pada diriku sendiri dan berpikir apakah aku telah sanggup untuk melepasnya, merelakannya? Aku tak tahu pasti. Sudah kubilang aku tak mengerti dengan suasana hatiku sendiri saat ini. Benar-benar tak mengerti. Yang kutahu, aku harus menumpahkan segalanya lewat tulisan, meski jika pada akhirnya aku sendiri bingung dengan susunan kataku yang berantakan dan tak beraturan..

Aku menulis ini dengan menahan tangis, tangisan yang memilukan. Tangisan yang bertanya apa arti rasa sakit ini, apa arti kehilangan ini. Sungguh ini pilu, memilukan. Rasanya aku ingin berteriak sekuat mungkin, ingin menangis sekeras mungkin. Pilu, itu yang kutahu saat aku menulis paragraf ini. Pilu menyergapku, tiba-tiba dingin dan, dan aku, aku merindukan sosoknya kembali. Tapi, kali ini airmataku enggan keluar dari pelupuk mata, atau aku memang sudah tak mampu lagi menangis selain diatas pundaknya. Aku ingin marah, aku kecewa ketika aku tak mampu lagi menangis dan mengungkapkan rasaku kepadanya. Ini pilu. Sungguh..

Aku merasakan ada yg kosong di hari ini, ada yg hilang dari hati ini. Aku kehilangan sosok malaikat, aku kehilangan cinta dan kasih tulusnya yang ku rasakan tiap saat. Ia adalah wanita yang sangat ku kagumi. Ialah wanita pertama selain "Dirinya" yang mengajarkanku hal-hal yang sederhana. Ia yang selalu pertama memelukku saat jiwa ini lelah, menuntunku saat diri ini kehilangan arah..

Pagi ini ku tak bisa lagi melihat sosoknya, dimensi sudah membedakan kami berdua. Tapi aku yakin ia tetap memperhatikanku dari sana. Aku tak bisa memeluknya untuk sekedar melepas rindu. Tempatnya terlalu jauh. Tapi aku yakin ia mendengar sapaan rinduku untuknya. Aku tak bisa mendengar tawa bahagianya di sana. Telingaku tak mampu. Tapi aku yakin ia mendapat alasan yang tepat untuk setiap tawanya. Aku tak bisa berbisik mengucap selamat jalan di telinganya seperti mereka yang bisa, seraya memberi setangkai melati putih disampingnya. Tapi aku yakin,bukan itu yang ia mau dariku. Bukan. Hanya setangkai doa kecil dariku untuknya, itu yang ia ingin dan cuma itu yang bisa kuberi..






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..