Senin, 15 Desember 2014

*..Beranda Kecilmu(2)..*



Di beranda kecilmu yang sedikit berdebu, ketika hujan masih menyisakan rinai gerimis beraroma sendu. Ada yang bakal lenyap dimakan waktu. Kelak. Saat para dewa-dewi usai berpesta diatas sana, diatas semua cerita yang dibuat oleh kita. Ya, diantara aku dan kamu yang sedang saling menarik napas panjang, sedikit berat, sedikit sesak. Saat kuhirup aroma basah yang penuhi setiap jengkal rindu yang dibuat oleh jarak..


Aku berteduh disini untuk kesekian kalinya, di beranda kecilmu yang hening. Hujan jatuh, malam merayap di langit yang dingin. 'Aku selalu menunggu...' kata-kata itu terhenti sendiri. Kembali ku memandang pintu itu dalam keraguan, ragu untuk mengetuk. Kembali ku menarik napas perlahan dalam kebisuan, bisu yang tak berbentuk. Semua masih bungkam. Ku ambil secangkir kopi yang sedikit tumpah di lantai, meminumnya perlahan. Sedikit beku, mungkin karena telah lama terdiam. Namun masih ada rasa pahit yang menyusup, ada rasa rindu yang meredup. Entah kenapa.. 

'Inilah aku masih disini untukmu...' sambungku. Kalimat yang terucap begitu saja, tanpa rencana, tanpa aba-aba. Namun sampai berapa lama? Aku ingin jawaban yang pasti bukan ilusi. Bukan berandai-andai,bukan menerka-nerka dari jawaban yang tak pernah ada. Bukankah kamu yang bilang jika aku harus menunggu, jika aku menanti apa yang selama ini aku percaya maka semua itu akan terjadi. Dan aku percaya padamu, percaya bahwa kau akan membukakan pintu itu.. 

Aku tahu Semesta yang menjadikanku sebagai kepompong dalam ceritamu, hanya kepompong bukan kupu-kupu. Deskripsi yang entah ada hubungannya atau tidak. Pada dasarnya kepompong dan aku sama-sama menunggu. Penantian ini sederhana bukan? Kami hanya saling menanti, saling mengorbankan waktu untuk bisa terlepas dari ruang yang begitu sempit dan terlepas pada saat kami bisa benar-benar bersabar untuk menunggu.. 

Kamu mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk untuk menunggu. Salahkah jika aku seringkali merajut rindu itu untukmu? Salahkah jika perasaan ini bertumbuh melebihi batas kewajaran? Salahkah jika aku mencintaimu tidak hanya sebagai teman, tapi juga sebagai seseorang yang bergitu bernilai dalam hidupku? Apakah semua itu salah? Jawablah! Apa kau sudah lelah? Apa kau sudah tak ingin bertemu aku kembali? Apa kau sudah merelakan jika suatu saat nanti aku akan pergi..? 

"Di sini aku selalu menunggu...," rutukku. Dalam penantian yang kesekian di depan beranda kecilmu. Malam telah merayap jauh. Gerimis telah berhenti. Kelenggangan begitu sempurna mengekalkan sepi. Aku tak bisa mejanjikan apa-apa selain menunggu. Menunggu. Dan menunggu..







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..