Kamis, 15 Agustus 2013

*..Tersenyumlah Langit..*


Hmmm... Langit..
Hari ini ku kembali menatap wajahmu di tempat ini, seperti perasaanku mendung perlahan menutup indahnya warna biru menjadi kelabu saat ku berada di sini. Seakan mencerminkan hariku seakan mencerminkan hatiku, mendung tanpa terpaan mentari tanpa hadirnya pelangi..



Hmmm... Langit..
Sebenarnya ada apa dengan dirimu? Mengapa engkau selalu menahan air matamu ketika ku berada di sini? Seakan berusaha menawarkan rasa yang bergejolak dalam dirimu seperti halnya diriku. Langit apakah engkau sepertiku? Yang ketika merasa lelah, penat, sedih, kecewa, sakit dan terluka maka air mata adalah penawarnya..

Hmmm... Langit..
Aku tahu kamu berusaha untuk tak meneteskan air matamu hanya karena tak ingin itu akan membuat hatiku tersentuh dan merasa tak kuasa untuk tidak ikut menangis bersamamu. Ya,, Langit. Sesungguhnya mendung dan air matamu itu sangat menyentuhku dan terkadang memang berhasil membuatku ikut menangis bersamamu, dengan air mata yang mungkin berbeda..

Hmmm... Langit..
Apakah engkau juga tahu? Terkadang mendung dan air matamu itu juga mampu memberikanku inspirasi untuk merangkai kata menjadi sebuah untaian bait-bait perasaanku yang sanggup membuatku tiba-tiba menjadi sosok yang melankolis. Terdengar lucu kan? Aku tahu engkau pasti tersenyum mendengarku  bicara seperti itu. Tapi kenapa senyum tipismu itu tak mampu menghilangkan mendung kelabu dari wajahmu..

Hmmm... Langit..
Aku menunggumu untuk tersenyum kembali kepadaku. Menunjukkan kembali indahnya sinar di wajahmu yang selalu setia menungguku, mengerti, dan memahami perasaanku. Walau ku tahu tangismu itu dapat menghapus kehampaan di hatiku. Walau ku tahu tangismu itu dapat meredam kesedihan di jiwaku. Karena tangismu itu hadirkan kebahagiaan yang dulu kumiliki, kebahagiaan yang telah lama hilang. Kebahagiaan saat ku menatap pelangi..

Hmmm... Langit..
Haruskah aku tetap di sini? Menunggumu menangis hanya agar aku bisa melihat pelangi itu kembali. Haruskah engkau lakukan ini? Menangis kembali hanya agar hari ini aku bisa bertemu dengan pelangi itu. Sungguh untuk sesaat dan mungkin hanya sesaat aku akan ikut menangis bersamamu jika engkau benar-benar menangis hari ini. Ya,, tangisan yang berbeda tangisan bahagia..

Hmmm... Langit..
Engkau adalah sahabatku yang setia menemaniku dalam segala rasa di sepanjang hidupku. Memelukku tenang dalam kegundahan dan kedukaanku. Jadi bolehkah aku sebagai sahabatmu memintamu berjanji untuk satu hal padaku? Langit,, tersenyumlah. Tersenyumlah untukku sekarang, esok, dan seterusnya. Karena kini kurelakan pelangi itu tetap menjauh, pergi, menghilang, dan mati di dalam mimpi..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..