Selasa, 26 Mei 2015

*..Surat Darimu Untukku..*

surat darimu

Teruntuk lelaki yang merasa ku sia-siakan...


Hei, apa kabarmu hari ini yang tak sempat kuberi kabar? Ah, aku tahu seperti biasa kau akan menuliskan segala isi hatimu di sebuah akun sosial milikmu yang katamu itu dikhususkan untukku. Karena disetiap akhir kalimat yang kau tulis kau selalu memajang inisial namaku. Dan seperti biasa pula kau akan memakiku dalam hati karena untuk kesekian kalinya mengabaikan isi hatimu. Kau selalu berceloteh seakan kau minta aku kasihani, namun seperti yang kau tahu juga aku pasti takkan mengubris semua celotehanmu itu. Jangan pernah berkata aku jahat! Karena aku tak pernah bermaksud melakukan ini semua. Kau yang memaksaku melakukan ini...

Aku benci melihatmu terpuruk dan mengatas namakan diriku dengan alasan yang ku anggap berlebihan. Aku benci melihatmu terluka atas semua yang kau lakukan selama 3 tahun terakhir ini. Sekali lagi kau pasti menganggap ku jahat. Kau tahu? Kau hanya melihat sisi dimana aku melakukan hal yang menurutmu tidak baik sedangkan menurutku itu demi kebaikan kita. Pertemanan kita. Pertemanan yang kau anggap jalan pintas untuk mendapatkanku, pertemanan yang tak pernah kau anggap sedikitpun. Ya aku memperjuangkan itu, sedangkan kau memperjuangkan hatimu. Obsesimu terlalu besar untuk mendapatkan wanita biasa sepertiku, teman. Apa yang sebenarnya kau lihat dariku? Dan sikapku yang mana yang mampu membuat jantungmu selalu berdetak lebih kencang saat bersamaku..?
 
Jujur saja aku tertekan dan terkadang aku bingung tentang apa yang telah aku putuskan. Rengekkanmu terlalu membuat telingaku sumbang. Aku benci mengasihani orang apalagi lelaki, dan aku benci memberi harapan kepadamu. Tanpa kau sadari disetiap rengekkan yang kau ciptakan aku selalu mencoba menjilat kembali keputusanku untuk mengabaikanmu. Ya aku terlalu kasihan melihatmu terjatuh seperti ini. Bukankah aku terlalu sering memberikan harapan terhadapmu yang kau anggap itu palsu? Itu bukan palsu bodoh! Itu kesempatan yang selalu kau sia-siakan. Sadarkah kau yang merengek agar aku memberimu kesempatan tapi kau juga yang tak pernah peka akan kesempatan yang sudah jelas-jelas berada dihadapanmu. Dan itu benar-benar membuatku berada dipuncak tertinggi dari sudut emosiku. Ya aku lelah...
 
Aku lelah akan semua rengekkanmu. Aku lelah saat kau tak pernah berhenti mengajakku bertemu sedangkan aku tak pernah ingin bertemu denganmu. Bukan karena alasan yang kau pikirkan tapi karena aku enggan melihatmu kembali meminta kesempatan padaku. Aku lelah saat kau terus menerus merengek seakan kau paling tersiksa atas perasaanmu padaku, sedangkan saat kau ku beri kesempatan kau selalu mengabaikannya. Aku lelah akan segala celoteh yang kau ungkapkan, seakan aku adalah wanita tak berprikemanusiaan seperti yang kau tulis. Dan aku lelah harus menerima setiap ucapan yang kau anggap itu bukti cintamu, sedangkan bagiku itu adalah sebuah ucapan tak berarti...
 
Seperti halnya hari ini saat kau mengirimiku pesan singkat pagi ini. Entah apa yang kau pikirkan aku memang sengaja mengabaikannya. Membiarkan pesan itu tertutup hingga akhirnya tak sengaja ku buka lalu kuhapus. Sepertinya kau tak mengerti juga akan pengacuhanku. Ya, kau selalu mengirimkan kata yang sama hingga berkali-kali yang membuatku terpaksa untuk cepat menghapusnya. Aku menunggumu lelah mengirimku pesan itu lalu aku balas pesanmu saat 10 jam terlewati. Kau tahu? Aku berharap kau mengacuhkannya. Namun ternyata tidak. Kau malah membalasnya lebih cepat dari dugaanku. Kau menanyakan kemana saja aku hari ini layaknya seorang kekasih. Dan aku tak pernah menyukai kata-kata menjijikan seperti itu, jika bukan kekasih yang ku cintai yang menanyakannya...
 
Kau tak pernah sadar bahwa aku disini sama sepertimu menunggumu selama 3 tahun. Menunggu agar kau lelah mencintaiku lalu pergi mencari wanita yang jauh lebih sempurna dari pada aku. Kau pantas mendapatkannya. Dan seharusnya kau sadar betul bahwa aku tak pernah mencintaimu, dan aku bukan yang terbaik untukmu. Berhentilah menggangguku dengan celoteh kegalauanmu itu, berhenti mengusik kehidupanku dengan cara yang tak pernah aku sukai. Aku yakin kau bisa. Aku hanya tak ingin seseorang terjatuh dan terpuruk olehku. Ku mohon berhenti sebelum aku benar-benar tega meninggalkanmu dalam keadaan kau terpuruk, teman...



Tertanda



Hanya Wanita Biasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..