Selasa, 26 Mei 2015

*..Secangkir Kopi Rasa Kenangan..*

kopi rasa kenangan pahit

Sebenarnya hari ini aku malas untuk menulis. Sungguh! Rasanya tubuh ini sudah tak sanggup lagi untuk menahan rasa kantuk dan lelah yang mulai datang. Aku ingin cepat pulang. Ah sial, aku lupa dengan masalah yang ada di gang depan. Baiklah aku mempunyai sebuah rencana, biar kulemparkan saja tulang-tulang yang ada pada tubuh ini pada anjing-anjing yang menunggu disana, biarkan mereka membawanya, memainkannya. Dan biarkan seonggok daging ini merangkak pelan menuju tempat tujuan, tidak begitu jauh namun tidak juga begitu dekat seperti yang terlihat. Hanya saja mungkin butuh waktu yang lama untuk sampai. Ya, aku ingin cepat pulang...



Tapi ternyata rencana yang sudah kupersiapkan dengan matang akhirnya gagal kulaksanakan. Anjing-anjing itu tak sedang ada di tempatnya. Mungkin mereka sama lelahnya denganku, dan aku mengerti. Bagaimana mereka tidak lelah? Mereka menggonggongi setiap orang yang lewat di hadapannya, tidak jelek tidak cantik tidak miskin tidak kaya mereka pasti menggonggong. Sama seperti manusia yang selalu mengomentari sesamanya. Tidak jauh beda kan? Baiklah untuk sementara tulang-tulangku aman. Biar ku simpan saja dalam koper hitam, aku kunci dengan nomor sandi hari ulang tahunmu. Siapa tahu nanti kamu membuka dan melengkapinya. Melengkapinya? Ya, aku kehilangan salah satu tulang rusukku disana. Entah terjatuh dimana namun kuharap kamu yang menemukannya...

Hei, tunggu! Apa ini? Aku lupa kapan hari ulang tahunmu itu dirayakan. Aku lupa aku tak pernah merayakannya bersama denganmu. Aku tak pernah menyalakan lilin-lilin itu di depanmu. Aku malah memakai lilin-lilin itu untuk membakar sesuatu yang memenuhi ruang kerjaku. Ya kertas-kertas itu. Kertas-kertas berisi puisi dan gambar tentangmu aku bakar dengan lilin-lilin kecil itu. Aku ingin merubah itu semua menjadi abu lalu aku kumpulkan dan berniat untuk meminumnya malam nanti. Seperti nasihat seorang bijak yang aku pelajari waktu sekolah dulu. "Jika tak bisa menguasainya ya minum saja biarkan mereka menyatu di tubuhmu." Terdengar bodoh memang tapi.. Hei, apa kalian percaya aku akan melakukan hal bodoh seperti itu? Aku tidak sebodoh itu, aku takkan melakukannya begitu saja. Aku tahu itu rasanya pahit. Jadi aku mempunyai inisiatif untuk mencampurkannya dengan secangkir kopi agar pahitnya tersamar oleh rasa kopi. Sama-sama pahit tapi mempunyai cita rasa yang berbeda. Aku pintar kan..?

Dan langit seolah merestui atas apa yang akan aku lakukan. Ia mengirimkan hujan padaku. Ia sungguh baik sekali, jadi aku tak perlu repot-repot untuk mencari air untuk menyeduh kopiku. Aku hanya tinggal meletakan cangkir kopiku dan biarkan air hujan memenuhinya setetes demi setetes. Kenapa tidak memakai air hangat saja? Kenapa harus memakai air hujan yang dingin? Tak apa, bagiku itu sama saja. Bukankah semua yang hangat itu akan berubah menjadi dingin? Sama halnya dengan yang tadinya dekat akan menjadi jauh, yang tadinya akrab akan menjadi canggung. Benar kan? Ah, secangkir kopi rasa kenangan. Rasanya begitu berbeda dengan rasa kopi kebanyakan. Seteguk, dua teguk, hingga tegukan selanjutnya semuanya terasa beda. Ada rasa pahit dan getir yang terasa di ujung lidah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..