Kamis, 12 Februari 2015

*..Aku, Kamu, dan Senjaku(2)..*



Aku. Aku hanyalah seorang pria yang begitu menyukai senja dan matahari terbenam. Rasanya tak ingin sekalipun melewati warna jingga, yang selalu terlukis indah dari sapuan kuas sang Semesta di kanvas langit milikNya. Ya,meski ku tahu senja itu hanya sementara. Warnanya akan pudar. Dan kemudian akan datang hitam merenggut segalanya. Hitam yang sangat aku benci. Tapi bukankah itu hakikatnya? Yang indah tak selamanya ada, bahagia tak selamanya tinggal, dan sebuah senyuman pun tak selamanya bertahan. Bukankah Semesta mengajarkannya dengan jelas kepada kita..?
Aku selalu menikmati sendiri senjaku dari dalam ruang sempit yang dia berikan untukku. Tapi tenang walaupun sempit, tapi jendelanya sangat luas sekali. Bahkan aku masih bisa melihat senja dan halaman depan beranda kecilnya sekaligus dari sini. Hebat kan? Sesekali kuambil secangkir kopi hitam yang tergeletak diatas meja. Hah? Kopi hitam? Bukankah aku lebih suka cappucino? Sejak kapan aku mulai menyukai kopi hitam? Entahlah. Kurasa belakangan ini aku lebih suka dengan kopi hitam ketimbang cappucino. Mungkin karena rasanya. Ya rasanya mengingatkanku pada sebuah kenangan. Sama-sama pahit..
Hei, kopi ini kenapa rasanya dingin? Tunggu! Padahal seingatku baru minggu kemarin aku membuatnya. Sial! Kemana asap-asap tipis itu pergi? Mungkinkah mereka pergi ke langit, merajut awan dan berencana menurunkan hujan untuk mengacaukan senjaku hari ini? Tidak. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Aku sedang ingin menikmati senja bukan sedang ingin menikmati hujan. Hujan membuat jendelaku tak bisa melihat dengan jelas. Hujan membuat penghuni beranda itu mengunci pintu. Dan hujan membuat semuanya menjadi basah. Ya, basah..
Langit turunkan asap-asap tipis itu kembali ke sini. Aku tak suka rasa kopi ini. Dingin dan pahit. Seperti sikap seseorang padaku di masa lalu. Pahit namun hangat. Setidaknya itu lebih baik kan? Jika kamu tak mau, biar kuganti asap-asap tipis itu dengan asap-asap yang lain. Yang lebih banyak dan lebih sering. Dan kuminta kau harus mempertimbangkannya dengan serius. Karena selain asap-asap tipis itu, suatu hari kau akan mendapatkan aku terbang bersama asap-asap tipis itu ke dalam pangkuanmu. Tawaran yang menarik bukan..?
Akhirnya kau mau mengembalikan asap-asap itu kembali, walaupun harus dengan susah payah kurasa. Bagaimana tidak? Kau menyuruhku untuk membuang kopi dingin itu dan menggantinya dengan kopi lain yang baru kuseduh beberapa menit yang lalu. Setidaknya masih dengan cangkir yang sama kau bilang. Oh ya, pintar sekali. Kau benar. Cangkir yang sama, rasa yang sama, hanya kopi yang berbeda..
Kembali ku bisa menikmati senja dan jingganya. Aku begitu mencintai senja seakan ia adalah bagian dari sepi. Kau salah. Ini bukan sepi biasa. Ini sepi berbeda. Ini sepi istimewa. Dimana segala kenangan yang telah lama terkubur mampu ia bangkitkan. Dimana segala impian yang telah lama hilang mampu ia ajak pulang. Hanya senja namun terasa bermakna. Senja juga mengajarkanku tentang ketulusan. Bagaimana ia rela tenggelam di gantikan malam. Ia tak pernah meminta untuk lebih lama tinggal, karena ia sadar itulah perannya. Hadir sekejap dan tak menorehkan kesan untuk yang pernah melewatkannya. Ia pergi, namun ia tak benar-benar pergi. Ia masih bersama langit, hanya saja ia sedang berpindah tempat untuk menjadi yang tak begitu terlihat. Ah lagi-lagi ia mengajarkanku tentang satu hal. Kesetiaan..
Sampai kapan kamu menikmati senja sendiri? Tanya mereka kepadaku. Mereka berkata bahwa senja tak selamanya menemaniku. Apalagi saat senja benar-benar terenggut oleh pekatnya malam. Dan angin pasti berhembus lebih kencang. Membuatmu dingin. Tidakkah kamu ingin ada seseorang disampingmu kemudian merangkulmu dengan hangatnya dan menuntunmu pulang? Ah, kekhawatiran mereka memang benar adanya. Tapi entahlah aku tak pernah memikirkan itu. Aku juga tak ingin mencari-cari sosoknya yang mampu menikmati senja berdua. Bagiku jika memang ia adalah orang yang akan menemaniku menikmati senja, aku ingin dia sendiri yang menuntunku membawa langkah kakiku kesana. Aku ingin sosok itu juga mencintai senja agar kesetiaannya sama hal dengan kesetiaan senja pada langit. Aku tak ingin ia merasa bosan saat menemaniku menikmati senja. Lalu kami berdua akan selalu menikmati senja di depan beranda yang sama tanpa di batasi oleh sebuah jendela..








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..