Minggu, 26 Januari 2014

*..Hujan Di Persimpangan Jalan(2)..*


Aku suka rinai hujan yang menari di antara batas bumi dan langit. Aku suka bagaimana hawa dingin menyelimuti tubuhku, begitu kontras dengan gelas kaca berisi capuccino panas yang pernah kamu buatkan tempo hari untukku. Aku suka bagaimana aku menarik kedua kakiku agar tidak terpercik tetesan air dari ujung payung yang kupakai berteduh saat ini. Aku suka rinai hujan, sama seperti aku juga suka menantimu..



Kepalaku menatap genangan air yang tercipta dan menemukan sosok bayanganku sendiri, dengan ekspresiku yang biasa. Satu tanganku terbenam dalam saku jaket hitam kumalku itu. Samar-samar ku lihat dia bicara padaku
"Sudah lama?"
"Tidak juga. Baru setengah jam" jawabku
"Sudah kubilang kau pulanglah, aku kan.."
Buru-buru aku menempelkan jari telunjuk di bibir, isyarat agar bayanganku tidak terus bicara. Ya, di luar kedataran ekspresiku yang melebihi batas datar orang normal, bayanganku ini cerewet sekali kadang-kadang. Aku tersenyum dan mengalihkan pandanganku kembali pada hujan yang tak juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti..

Sesaat mataku terpejam, pulang? tanyaku dalam hati memikirkan perkataan bayanganku sendiri. Tidak adakah pilihan lain? Pulang menurutku bukanlah pilihan terbaik untuk diriku saat ini dan juga nanti. Dalam helaan nafas yang lebih berat dari biasanya, aku juga berfikir apakah yang sedang kulakukan sekarang akan berarti untuk diriku saat ini dan juga nanti? Menanti seseorang yang mungkin takkan pernah datang kembali. Aku tersenyum untuk sesaat, hanya sesaat. Ketika ku sudah tak sanggup bersembunyi di balik senyum pedihku itu. Aku memilih hujan sebagai teman dalam kesedihan. Karena hujan sanggup menyamarkan tangisan yang ada dalam hatiku.. 

Hujan hanyalah rintikan air yang membuat logikaku selalu bertanya, mengapa ada air yang turun dari langit yang terlihat datar? Langit sama sekali tidak terlihat seperti sketsa wajah, langit tidak mempunyai mata untuk menangis, langit juga tidak mempunyai mulut untuk meludah, lalu dari mana rintikan itu turun? Namun apapun yang telah terjadi pada langit, hujan itu selalu merangkulku dalam kesendirian, mendekap ketika aku benar benar ingin terlepas. Mempunyai arti lebih dari semua arti tentang cerita kita..

"Disini, aku masih menunggumu" Kalimat itu yang menjadi pengantar kebisuanku. Dalam aroma hujan yang dingin, ku masih merasakan kehangatan ketika seulas kalimat itu muncul dalam benakku. Pertanyaannya mengapa kamu tak pernah mengerti? Mengapa kamu tak pernah bisa membedakan mana cintaku dan mana janjiku dalam kalimat sederhanaku itu..?
Aku suka rinai hujan, sama seperti aku suka menantimu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..