Kamis, 30 Mei 2019

*..Hari Bahagiamu..*


"Apakah aku akan bahagia hanya dengan melihatmu bahagia? Walau kebahagiaanmu bersama yang lain, bukan denganku. Apakah akan sama bahagianya, jika nanti ada yang menggantikan kamu yang dulu pernah disampingku?"


Hentikan omong kosong ini. Tak ada yang namanya bahagia saat kita kehilangan sesuatu yang ingin kita miliki. Bukankah sudah jelas? Kalimat 'aku bahagia jika melihatnya bahagia' hanyalah sebuah kebohongan belaka. Mereka yang mengatakannya hanya untuk menguatkan hati yang tengah terluka. Membohongi perasaan dengan senyuman yang dipaksakan. Bukankah itu lucu? Menjadi penghibur sekaligus badut untuk diri sendiri. Sementara harapan menjauh pergi, kenyataan menertawakan kita disini..


Jadi sebelum semuanya terlanjur benar-benar jauh. Jawab tanyaku disaat ragaku masih utuh. Sudah sekeras apa kamu tertawa bersamanya? Apakah sama kerasnya ketika kamu menangis dipundakku saat itu. Kamu benar, kamu memang hebat. Sangat hebat malah, hingga kau paksa aku untuk mengalah. Aku sadar, kamu memang adil. Sangat adil memang, hingga kau pilih dia untuk menjadi pemenang. Kau yang selalu membagikan tawa dan senyummu pada dunianya. Kau yang selalu memberikan tangis dan pilumu pada duniaku. Dia mendapatkan tawamu dan aku yang mendapatkan tangismu. Sudah sepantasnya dia dan aku mendapat hal yang sama dari apa yang kau beri, benar bukan? Dia tertawa dan aku menangis. Konsep keadilan didalam hidupmu memang tak salah kan..?


Besok dihari bahagiamu, izinkan aku untuk tak hadir. Disaat kau merayakan kebahagiaanmu bersamanya. Aku disini sedang merayakan kesedihanku sendiri. Jangan kau mempertanyakan ketidakhadiranku di hari terbaikmu. Aku pun takkan mempertanyakan ketidakhadiranmu dihari terburukku. Disini ku sedang sibuk, menyusun dan menata sebuah harapan yang terlanjur hancur menjadi beberapa serpihan. Disini ku tak punya waktu, menyusun dan merangkai kalimat pengharapan yang berujung pada kata perpisahan..


Besok dihari bahagiamu, izinkan aku untuk menjadi tuli dan bisu sepertimu. Berharap aku takkan mendengar janji setianya padamu. Janji sama yang pernah dulu kukatakan padamu. Masih ingat? Aku berulang kali mengatakannya dihadapanmu 'aku akan bahagia jika kamu bahagia, dan aku yang akan membahagiakanmu'. Hanya saja kau tuli dan bisu seperti biasa. Kamu anggap aku hanya sebagai teman berbagi cerita. Dan kata-kata dariku hanya sebagai penghibur sedihmu belaka. Maaf aku bukan badut penggembira. Aku hanyalah orang buta, yang selalu saja salah dalam menitipkan rasa..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..