Senin, 18 Desember 2017

*..Pergilah Kau Dari Hidupku..*


"Mungkin kau yang telah lelah menjaga semua cinta kita, yang berakhir setelah kau mengenal dia. Mungkin juga aku yang telah lelah menjaga semua cerita kita, yang berakhir setelah kau memberiku luka.."


Andaikan dulu ku tak pernah mencintaimu. Atau mungkin ku tak pernah dekat denganmu. Atau mungkin ku tak pernah mengenalmu. Atau mungkin lebih jauh, ku tak pernah bertemu denganmu. Mungkin luka darinya di masa lalu masih terasa sangat menyakitkan. Sebelum kau datang membawa luka baru yang nyatanya jauh lebih menghancurkan. Kepercayaan yang pernah menjadi dasar dari komitmen yang pernah kita bangun, akhirnya kau sendiri yang meluluh lantakannya tanpa ampun..

Lalu untuk apa semua kata dan janji yang terlanjur pernah keluar dari lidahmu itu? Apakah tak ada artinya untukmu? Apakah itu semua seperti ludah bagimu? Tak berharga dan tak mempunyai makna? Jika seperti itu, terima kasih telah meludahiku dengan kata-kata manismu tentang cinta dan asa. Mestinya kusadari dari awal, kau yang kupercaya nyatanya menjadi yang paling membuatku kecewa. Kau membuat diriku terasa tak berharga sedikitpun di matamu. Ya, aku resmi menjadi  sampah dihadapanmu..

Dan aku akhirnya harus menerima bahwa memang tak ada kisah yang bisa sempurna. Seperti yang selalu diimpikan, dan kusadar mimpi tak selalu menjadi kenyataan. Dan aku akhirnya harus menerima bahwa memang ku tiada sempurna. Tak bisa menjadi seperti yang kau impikan dan harapkan. Terlalu banyak kekurangan diriku yang kau jadikan sebagai alasan meninggalkanku. Tanpa kau melihat kekurangan dirimu tapi ku masih memilih memperjuangkanmu..

Semua karena dia. Rasa nyaman yang diciptakan olehnya. Dia hadir merebut apa yang kuperjuangkan. Dari awal aku yang berjuang, namun di akhir dia yang menang. Kau tahu? Berapa lama aku harus melunakan hatimu yang keras itu? Terlalu keras, hingga aku terlalu memaksakan diri ini untuk tak lagi mengenal batas. Namun aku lelah. Aku butuh waktu untuk sejenak hentikan langkah. Istirahatkan hati, kaki, dan tangan ini yang telah berdarah-darah. Namun aku salah. Saat pertahananmu rapuh, dia datang dengan sekali sentuh. Hingga akhirnya kau jatuh dengan sekali rengkuh..

Rasa nyaman darinya menjadi alasan utama mengapa kau pergi. Sedang ketulusan dariku menjadi alasan pertama mengapa kau lari. Kau bilang aku terlalu berlebihan, saat aku bilang kau satu-satunya pilihan. Bukan tanpa alasan aku memilihmu, karena jika harus kujelaskan takkan pernah cukup waktu yang kumiliki untuk menjabarkan. Namun mengertilah tentang satu hal, perasaan ini sungguh inginkan kamu untuk tetap tinggal. Jika ketulusan dan kesungguhanku tetap kalah oleh rasa nyaman yang dia ciptakan, katakan padaku bagaimana caranya dia bisa membuatmu nyaman? Sedangkan dulu, pundakku menjadi tempatmu bersandar dari setiap tangisan..

Ya, aku pernah bilang kalau aku akan bahagia jika melihatmu bahagia, meski bahagiamu tak harus bersamaku. Namun kau juga harus mengerti, aku sangat benci mengatakan kalimat itu. Bila ternyata kau temukan hidup yang indah bersamanya. Maka terjawab arti bahagia untukku memang berbeda dengan arti bahagia untukmu. Dan tak mungkin lagi ku mengharapkanmu lagi, jika harapan kita saja sudah berbeda dalam hal ini. Mungkin hatiku saja yang mulai terlalu berharap, sedangkan mataku tak bisa melihat ketika kau mulai menusukku dalam gelap..

Walau perih terasa mengiris di relung hati. Harus ku sadari memang itulah kenyataan yang harus ku hadapi. Tak akan pernah kupungkiri kau yang akhirnya memilih pergi. Dan cinta hanyalah cinta. Takkan kusesali apalagi kutangisi. Mungkin semua akan ada hikmahnya untuk diriku. Mungkin nanti akan ada cinta yang lebih baik, yang lebih mencintaiku. Kulepaskan kau dengan senyuman sebagai salam perpisahan. Karena masih banyak yang menyayangiku, masih banyak sahabat di dekatku, masih banyak mimpi-mimpi yang menungguku. Karena langkahku takkan berhenti hanya karena kau pergi dari hidupku..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..