Rabu, 28 Juni 2017

*..Satu Hari Di Bulan Juni..*

"Satu hari di bulan Juni. Hari ini ku kembali patah hati. Entah untuk yang ke berapa kali aku melakukannya lagi. Aku memang tak ahli untuk menghitung semua hal dengan pasti. Jangankan patah hati bahkan perasaan yang kumiliki untukmu pun terlalu sulit untuk terdefinisi.."


Dan saat ini aku menyadari. Persepsi kata serius yang ku punya ternyata berbeda dengan kata serius yang kau punya. Dan aku takkan menyalahkan, karena dari awal kita memang tak pernah sejalan. Kita terlalu berbeda. Aku yang hanya memilihmu, dan kau masih menganggapku sebagai pilihan untukmu. Saat aku telah menemukan dan memutuskan untuk berhenti, kau masih saja berjalan dan terus sibuk mencari. Kita memang menghadap ke arah yang sama, namun kita tak pernah berada disisi yang sama. Terlalu menyakitkan terus menerus berada dibelakangmu, berperan sebagai penjagamu jikalau disana kau akan terjatuh. Terlalu membosankan terus menerus melihat punggungmu, berperan sebagai pendorongmu jikalau disana kau merasa rapuh..


Kuingin kau pun tahu seberapa lelahnya aku bertahan disini. Meski sesekali kau masih bisa melihatku yang selalu setia dibelakangmu. Menguatkanku dengan tatapan dan senyum manismu itu. Tapi kau hanya melihat dan tersenyum, tak pernah lebih dari itu. Pernahkah kau mencoba mengerti tentang aku? Ya, karena aku sadar tatapan dan senyum itu pula yang kau berikan pada mereka. Para pemujamu, seperti aku. Lalu apa bedanya aku dari mereka, jika ternyata kau memberi mereka hal yang sama? Lalu apa istimewanya aku dari mereka, jika ternyata kau memberi mereka satu-satunya hal istimewa yang kupunya? Salahkah jika aku seegois itu untuk memilikinya sendiri tanpa harus kau membaginya untuk mereka..?


Kuingin kau pun tahu seberapa lelahnya aku berdiri disini. Berusaha menjadi yang terbaik untukmu hanya agar kau terus melihatku. Menjadi pendengar, penasehat, dan penghibur dalam waktu yang bersamaan untukmu. Karena dalam angan aku selalu berharap kau juga melakukan hal yang sama untukku. Karena pada hakikatnya cinta bukanlah tentang memilih siapa yang terbaik, tapi bagaimana membuat keduanya menjadi lebih baik, benar kan? Lalu apa artinya jika hanya salah satu yang berusaha? Apakah berjuang sendirian itu mudah untuk dilakukan? Salahkah jika aku senaif itu untuk memintamu berjuang bersama untuk sebuah janji yang pernah kita ucapkan..?


Sekali lagi aku benci untuk melakukannya sendiri. Sendiri memperjuangkan kau dan aku menjadi 'kita' dalam cerita ini. Kumohon pandangilah aku sebagai lelaki biasa disini. Lelaki yang akan pergi jika sudah tak lagi dihargai. Dan saat itu akan segera tiba. Saat ku pahami ku bukan satu-satunya yang ada di hatimu. Saat ku sadari apa yang kau cari tak kau temukan di diriku. Mungkin pada akhirnya kita tak ditakdirkan untuk saling memiliki. Dan kau akan kuanggap sebagai bagian dari sebuah perjalanan, sama seperti yang sudah kulalui di masa lalu. Sebuah persimpangan yang mengarah ke sebuah jalan buntu. Dan ku harus kembali menemukan jalanku. Mencari persimpangan lain yang mengarah ke tujuan akhirku. Menemukan dia yang bersedia menemani perjalanan panjang di sampingku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..