Rabu, 03 Mei 2017

*..Gadis Berjilbab Merah Jambu(5)..*



"Gadis berjilbab merah jambu, aku putuskan aku yang berhenti. Biarkan aku yang pergi.."



Gadis berjilbab merah jambu. Aku putuskan untuk melepaskanmu. Kau takkan lagi menjadi alasan untuk setiap senyum dan tawa yang pernah kita ciptakan bersama. Disetiap malam-malam yang pernah kita lewati berdua dengan jutaan cerita. Hingga kita dengan sadar dan sengaja hiraukan larangan Semesta. Kau yang sudah memilih dan dipilih seseorang, tak seharusnya aku datang dan dengan lancang mengatakan sesuatu yang selayaknya sudah lama ku buang. Sebuah perasaan yang memilih untuk tetap tinggal dan tak mau menghilang, dan kutahu konsekuensinya mengungkapkannya sama saja dengan mengundang patah itu untuk datang..


Gadis berjilbab merah jambu. Aku pergi. Itulah satu-satunya pilihan yang Semesta berikan padaku. Sebenarnya Dia memberi dua pilihan untukku. Aku yang pergi atau menunggumu untuk pergi. Dan kau tahu sendiri kan gadis berjilbab merah jambu kalau aku benci menunggu? Menunggu itu membosankan bagiku. Menunggu itu tentang waktu. Bagaimana aku bisa menunggu jika semua waktuku selalu tersita untuk memikirkanmu? Ya, kau yang telah merasuk dalam pikiranku hingga akal sehatku pun sulit membedakan mana yang benar dan salah untuk kulakukan dalam cerita ini. Ya, aku kehilangan kewarasanku sendiri karenamu disini..


Gadis berjilbab merah jambu. Aku lelah. Aku lelah memasang wajah ini di depan mereka semua. Wajah yang terlihat baik-baik saja, walau mungkin di baliknya menyimpan banyak sekali luka. Katakan saja aku bermuka dua. Ya, dan dengan kejamnya aku juga harus memasang wajah ini di depanmu, wajah yang terlihat baik-baik saja dan harus terlihat baik-baik saja. Walau ku sadar ini adalah peran yang sedang Semesta berikan. Seorang figuran yang terabaikan. Terlihat namun tidak pernah terdengar, ada namun tak pernah dianggap ada. Figuran yang mencoba bermimpi menjadi tokoh utama. Namun figuran tetaplah figuran, seseorang yang terabaikan. Dan aku lelah untuk terus-menerus diabaikan..


Gadis berjilbab merah jambu. Aku kecewa. Ya, aku telah mengecewakanmu dan juga diriku sendiri. Aku yang telah mendustai dirimu dan hati yang kumiliki. Seperti mencintai seseorang yang tepat di waktu yang tidak tepat. Ya, itulah kita. Namun aku takkan pernah menyalahkan waktu untuk semua luka yang kini aku terima. Karena aku tahu waktu tak pernah mau diajak bicara. Bukankah ia selalu serius menjalankan tugasnya, menyembuhkan luka. Jadi biarkan kini aku berteman dengan waktu untuk bisa menyembuhkan lukaku. Dan biarkan jarak yang aku kirim padamu kemarin membantuku untuk tak lagi mengganggu perjalanan hidupmu..


Gadis berjilbab merah jambu. Aku menyerah. Mengejar dan mengharapkan hal yang tak pasti sepertimu membuatku sadar. Mencintai terlalu dalam dapat membuat luka yang tak kalah besar. Bukannya tak ingin lagi berjuang dan berkorban untukmu. Percayalah, aku selalu berusaha memperjuangkanmu membuatmu menjadi yang paling bahagia dalam cerita kita. Namun ketika bahagia itu tak lagi ada dalam cerita kita, aku bisa apa? Namun ketika air mata itu yang justru ada dalam cerita kita, sekali lagi aku bisa apa? Ya, aku gagal membuatmu bahagia. Dan sudah seharusnya aku yang gagal ini menyerah dan mengaku kalah..


Gadis berjilbab merah jambu. Aku menjauh. Kau tak perlu repot-repot untuk mengusirku pergi. Tenang saja, aku masih tahu cara melangkah mundur sendiri. Aku akan pergi ke tempat dimana aku seharusnya berada, tempat dimana aku menjadi bukan siapa-siapa. Mungkin disana kau akan tertawa. Melihatku sebagai seorang pengecut dan pecundang yang datang dan pergi seenaknya. Meninggalkanmu tanpa kalimat selamat tinggal dan sampai jumpa. Terserah, kau boleh saja tertawa. Tertawalah sepuasnya. Lihat, kau tertawa. Ya, tanpa sadar kau tertawa. Kau tertawa, dan itulah yang selalu ingin aku lihat dan dengar darimu. Aku yang selalu mengagumi senyum dan tawamu lebih dari semua hal yang pernah aku kagumi di dunia. Senyum dan tawamu adalah anugerah yang terindah dan teristimewa. Jadi tetaplah tertawa gadis berjilbab merah jambu, ingat aku dan tertawakanlah kebodohanku..


Gadis berjilbab merah jambu. Selamat berbahagia untuk kita berdua. Saatnya kita berpisah disini karena kita akan melangkah ke arah yang berbeda. Bahagiaku dan bahagiamu ternyata tidaklah berada di tempat yang sama. Pastikan tak ada lagi yang masih tertinggal, agar tak ada lagi alasan untuk kembali dengan mengatasnamakan kenangan. Seperti awal mula perkenalan kita yang diawali dengan sebuah jabat tangan, mari kita akhiri perkenalan ini juga dengan sebuah jabat tangan. Meski tak ada kata yang kita ucapkan. Namun kita tahu apa yang harus kita lakukan. Saling melupakan..


Gadis berjilbab merah jambu. Semoga kau selala setia dengan pilihanmu. Pilihan warna favoritmu, merah jambu. Karena disini aku akan berusaha untuk belajar membencinya untukmu. Ya, selamanya aku akan membenci warna merah jambu. Tapi bukan berarti aku juga membencimu gadis berjilbab merah jambu. Mana mungkin aku bisa setega itu padamu. Aku hanya membenci warna favoritmu, merah jambu. Karena aku tak ingin warna merah jambu itu hadir kembali dalam hidupku. Cukup kau saja, gadis berjilbab merah jambu yang aku tahu. Gadis berjilbab merah jambu satu-satunya yang mungkin suatu saat nanti akan aku rindu. Masih boleh kan jika nanti aku merindu..?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..