Senin, 02 Mei 2016

*..Terlalu Sepi..*





Senja ini ditempat yang sama. Masih setia. Seperti senja-senja sebelumnya. Lembab mulai menari-nari di udara. Gigil mulai bersiap berbisik pada indera perasa. Satu sosok tengah berdiri dengan tumpuan sebelah kaki. Bersandar pada sebuah tiang besi yang mulai lapuk dan mati. Ya, bagaimana tidak mati? Tiang besi itu telah patah dan tergeletak begitu saja. Sungguh tak ada yang bisa diselamatkan dari sesuatu yang sudah patah, bukankah begitu salah satu hukum semesta..?


Tetapi seseorang itu datang kesini tidak untuk menangisi takdir tiang besi kesayangannya. Lagipula dia punya kesayangan lain yang lebih berharga, sebuah gitar tua yang kali ini sengaja ia bawa. Sebelum seseorang itu mulai memetik gitar kusamnya, ia berdiri diam tertahan untuk beberapa masa. Tangan halusnya meraih sebingkai foto berbentuk horizontal berukuran sedang dari dalam tas hitam. Mata jernihnya menilik dalam, tajam...



Tiba-tiba selengkung senyum terbentuk di bibir pucatnya. Kelamaan berubah menjadi serupa seringai. Ia meletakkan pigura tersebut tepat dihadapannya. Kembali berdiri dengan tumpuan sebelah kaki. Bergegas meraih gitar dengan ukiran sebuah nama dibaliknya. Membiarkan foto yang terbingkai manis itu menatapnya...



Lalu sebuah petikan senar terdengar perlahan. Nada lain mulai mengalun mengikuti, beserta sebuah seringai lagi. Seseorang itu memainkan lagu tanpa terburu-buru. Bisu seperti tanpa lagu. Pelan seperti tanpa pesan...



Udara kian melembab, mentari mulai tenggelam. Petikan masih mengalun secara perlahan. Suasana tetap sepi. Selain oleh seringai mendalami permainan gitar dan alunan musik gitar itu sendiri. Ya, terlalu sepi. Terlalu sepi untuk sebuah tempat kenangan. Kenangan yang telah pudar...
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..