Rabu, 15 April 2015

*..Kisah Tentang Kota Hujan(2)..*


Pernahkah kamu mendengar kisah tentang kota hujan? Kota yang tidak pernah kehabisan cara untuk menghadirkan cerita lama. Kota yang tidak pernah lupa untuk membungkus hujan sebagai hadiah bagi mereka yang masih menyimpan luka. Dan hari ini aku kembali, menemuinya. Kota hujan yang dulu sempat mengajukan sebuah tanya untuk hubungan 'aneh' kita. Dulu saat aku dan kamu terakhir kali mencicipi sebuah temu..

 
Semoga saja kota kecilmu ini masih mengingatku. Ya, aku lelaki yang dulu selalu mengacuhkan rintik-rintik hujan dikotamu hanya untuk sebuah temu. Aku lelaki yang malas membawa payung dan membiarkan jutaan tetes air itu membasahi kemeja lengan panjangku. Ya, aku masih ingat dengan semua hal itu. Tentu saja kotamu ini masih ingat. iya kan? Dulu hampir setiap waktu aku berkunjung kesini. Dulu hampir sepanjang waktu aku berdiri disini. Sekedar hanya untuk membuktikan bahwa menunggu itu tak mempunyai batas waktu. Yang nyatanya aku salah, karena ternyata mimpi itu mempunyai masa berlaku..

Aku menunggu, tapi sayang langit kota ini sepertinya membenciku. Ia selalu saja mengirimkan hujan saat ku tengah menunggumu. Tapi kau tak benci pada penunggumu ini kan? Iya aku tahu. Kau gadis yang baik tak mungkin kamu tega melakukan itu. Tapi sayang aku sedang tidak merasa cukup baik hari ini. Tidak seperti biasanya hujan tak datang saat aku menunggumu kali ini, mungkinkah yang aku tunggu telah berlalu..?

Baiklah, cukup! Beberapa bulan lalu, di sudut kota hujan kita pernah mengucapkan selamat tinggal. Juga beberapa potong pengakuan yang mungkin telah kamu lupakan. Bahwa aku mencintaimu! Aku mencintaimu sama halnya aku mencintai kota hujanmu. Kota hujan yang tidak pernah bertanya mengapa aku masih menunggumu. Kota hujan yang tidak pernah berteriak mengapa aku masih merindumu. Kota hujan yang tidak pernah menggubris mengapa aku masih melipat payung dan jas hujanku. Hanya kota hujan yang mampu mengerti aku. Ia tak pernah menyuruhku untuk berhenti, ia tak pernah membujukku untuk pergi, bahkan ia juga tak pernah mengajakku untuk pulang..

Aku berjalan sepanjang jalan. Seketika berhenti di sebuah persimpangan. Teringat akan kita. Ah, aku mengenang lagi. Tak pandai ternyata aku mengubur kenangan yang terlampau lama dalam ingatan. Maafkan aku ya. Aku sekedar mengingat. Karena aku merasa tak mampu untuk melupakannya, karena aku merasa itu terlalu berat..

Jingga itu mulai tenggelam, maka kuputuskan untuk mengucapkan selamat tinggal padanya di kota hujan. Berharap jingga lain cepat terbit dan mengucapkan selamat datang untukmu nanti di kota bunga. Kota yang telah berbaik hati menuturkan warna-warni cerita indah yang kau cinta, bukan melulu tentang cerita yang itu-itu saja. Tatkala kamu merasa pilu dengan masalah yang membebani pundakmu disana, cobalah pandangi langit di semesta kota. Aku menggoreskan ribuan doa buatmu diatasnya Hembusan kebahagiaan-kebahagiaan yang akan memelukmu hari ini, esok, dan selamanya. Tersenyumlah. Itu doa yang kutulis paling besar di langit milik Semesta. Apa kau bisa membacanya? Bisa kan? Ah Ayolah! Bukankah warna langit kita sama meski berbeda kota..?







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..