Senin, 23 September 2013

*..September..*


Di sebuah ruangan yang dipenuhi kesunyian, rindu demi rindu berlarian, kata demi kata berjatuhan. Dinding-dinding memeluk sunyi yang menemaniku tanpa tetapi. Aku tersenyum lemah pada bayanganku sendiri, seraya bertanya ; Masih sanggup menanti? Tak lelahkah hati? Suara detik jarum jam menusuk telingaku, seakan menegaskan ada nada bisu yang diteriakkan semesta untukku. Sunyi sudah menjadi teman, sejak kutahu bahwa kenyataan tak selamanya sesuai harapan. Namun gaung namamu dalam bisu bibirku lebih nyaring dari semua teriakkan itu. Dalam hati, rindu padamu terus mengaliri sepi..



Sampai saat ini ada yang masih kulakukan secara sembunyi-sembunyi. Ada yang sedang mengharapkan sesuatu yang ketiadaannya masih sanggup dimengerti. Ada sewujud doa yang kuungkap setiap mengawali pagi, untuk ia yang belum juga tahu tentang apa yang kulakukan setiap hari disini. Sebutlah aku pengagummu! Senyummu itu sumber kekagumanku, ratusan hari aku duduk memandangi bingkaimu hanya untuk menikmati hal yang satu itu. Dan hari ini aku masih melakukannya..

Ada seorang pengagum yang dengan sangat baik memendam rahasia tentang perasaannya selama ini. Ada yang begitu rapi menyembunyikan diri sehingga tidak mudah terlihat oleh mata. Ada yang mendoakan kebahagiaanmu tanpa seorangpun ada yang tahu. Ada yang berandai-andai jika saja kamu tahu siapa yang telah membuatnya seperti itu. Namun ia tahu, ia sedang berharap pada sebuah ketidakmungkinan. Sebuah bisu dia pelihara dalam bisingnya aksara di kepalanya. Ingin diutarakan namun ragu menghalangi jalan. Ingin di pendam sendirian namun entah sampai kapan bisa bertahan..

Dari sisi hati yang sama sekali tak terlihat, aku senang memandangimu sebagai suatu ciptaan yang sejak awal indah terpahat. Biarkan aku mengagumimu sekuat yang aku mampu, biarkan aku mengagumimu selama yang aku bisa. Tak perlu pedulikan sebesar apa rasa yang semestinya kau balas, tak perlu acuhkan harus sampai sebatas apa hingga itu mampu membuatku puas. Aku mengagumimu tanpa suara, mungkin dalam menenangkan rindu ini harus dengan cara yang sama. Meski tanpa isi hati yang bersuara namun aku bukanlah seorang penipu rasa. Tapi mungkin inilah peran yang Tuhan berikan untukku, menjadi seorang pengagummu..

Jangan pernah berpikir aku tak lelah dengan cerita ini, karena sungguh aku tak menikmati peran ini. Namun mengagumi adalah hal yang masih bisa kulakukan. Tak ingin bicara soal ketetapan, tapi selama perasaan tak berubah seluruh cerita tinggal Tuhan yang melanjutkan. Namun aneh. Meski namamu masih seratus persen mengisi hatiku tapi mengapa kekosongan ini tak pernah bisa berhenti kurasakan? Entah sampai kapan namamu akan berhenti kuucapkan. Entah sampai kapan aku hanya sebagai sosok transparan yang memelukmu dengan doa dan harapan. Entah sampai kapan rasa ini tak terutarakan. Entah sampai kapan aku harus menyimpan perasaan yang tak berdasarkan alasan..

Begitu banyak pertanyaan semacam itu terjun bebas ke kepalaku tanpa jawaban yang sejatinya aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku merindukanmu. Tapi kenyataannya hal itu rumit kujelaskan dalam realita. Setiap hari aku harus menenangkan rindu yang berteriak mencari di mana pelabuhannya, karena senyatanya dia tidak diaku siapa-siapa. Hingga sebuah pertanyaan bodoh muncul dalam benakku. Mengapa kamu? Mengapa pada seseorang yang dapat kuketahui dengan pasti, bahwa akhirnya adalah tidak mungkin? Ada rasa yang datang tanpa diundang, hingga tanpa sadar kuletakkan namamu pada urutan paling pertama dalam segala hal..

Aku tahu, dengan memperbanyak tanya dalam kepala tanpa mengeluarkan suara adalah wujud upaya sia-sia. Jika saja ada cara untuk menyadarkanmu tentang apa yang tersimpan tanpa harus ku mengatakannya. Sepertinya aku butuh kekuatan telepati, agar bisa kau rasakan apa yang kurasakan saat ini. Andai kamu mengerti ini bukan tanpa alasan. Sebab yang kulihat hanya bayangmu, pada tatap mataku yang paling dalam. Sebab yang kudengar hanya namamu, pada tiap nada kebahagiaan yang Tuhan ciptakan. Aku tinggal diantara ribuan pertanyaan, tentang mengapa kita kemudian dipertemukan. Aku berdiam di tengah ratusan perkiraan, tentang mengapa kepadamu, jatuhku tampak di izinkan. Jauh sebelum cinta tampak nyata, sudah kusadari bahwa semuanya akan berakhir dengan sia-sia..

Aku tak selalu mengerti takdir Tuhan, dengan segala permainannya. Aku lebih tak mengerti tentang kamu, dengan perhatian sementaranya. Hingga akhirnya aku semakin tak mengerti tentang kebersamaan yang belum tergapai, namun sudah harus selesai. Kamu hadir tiba-tiba, tanpa aba-aba. Kemudian pergi tanpa mengucap apa-apa. Paling tidak beri penjelasan, supaya aku tahu hatimu takkan mungkin kudapatkan. Paling tidak beri aku tamparan, supaya aku tahu bahwa aku sudah tak lagi miliki harapan. Kamu seperti ada untuk kucintai saja, bukan untuk kumiliki. Seperti dekat yang tak terjangkau, terasa tapi tak tergenggam, ada yang seperti tiada..

Lagi-lagi aku yang pertama bilang "Hai" dalam percakapan kita. Lagi-lagi aku yang memukuli kepalaku sendiri ketika kecewa menyerangku bertubi-tubi. Lagi-lagi tak ada alasan untuk membenci meskipun luka ini aku yang menjalaninya sendiri. Lagi-lagi aku yang berjuang sendiri untuk pergi meskipun berulang kali sosokmu tak henti menghampiri. Sementara hati ingin menjadi satu-satunya yang kamu ingini, cintapun berkata, ia tak ingin membenci. Tak apa aku bukan untukmu, tak apa kita tidak saling menuju. Tetap saja segala harap, semua rindu, setiap peluk bermuara padamu. Ingin rasanya lari sejauh mungkin, menghindar dari perasaan yang membelenggu. Padahal sudah kucoba menguburnya secermat mungkin, bahkan dari ingatanku sendiri. Namun pada langkah yang hampir terhenti, kamu ada. Pada harap yang perlahan memudar, kamu hadir. Tersisalah aku dengan sebuah keadaan, di mana arah yang semestinya kutuju masih samar. Entah harus terus bertahan atau memang harus terhenti disini..

Langkahku masih terombang-ambing, aku terpaksa mengikuti kemanapun ia ditempatkan. Sungguh, aku ingin berhenti di sini. Ingin berpindah ke lain hati. Ingin menemukan bahagiaku sendiri. Sebab, jika pandangan terus tertutup oleh bayangmu, tak pernah sempurna cinta mampu kumiliki. Kamu tak pernah sepenuh hati, sementara aku tak pernah setengah hati..

Semisal ada yang menyebut ini cinta, barangkali hatiku langsung menyetujuinya. Namun akalku, bilang tidak. Sebab akupun tahu, jika cinta tak baik kurelakan begitu saja. Cinta! Lima huruf yang biasa-biasa saja namun bisa mematahkan logika. Hati tidak pernah memilih kepada siapa ia diambil alih, yang aku tahu aku jatuh cinta pada pandangan pertama hingga seterusnya. Pada sebuah keramaian dan kamu menjadi pusat perhatian sedang aku hanya duduk di pojokkan menyaksikanmu dari belakang..

Jika aku terlalu lugu untuk mengatakan ini cinta, lalu mengapa hanya untukmu doa ini terus meminta? Namun tak mungkin kita dipertemukan Tuhan tanpa rencana. Seperti halnya tak mungkin Tuhan tidak berencana memisahkan, walaupun kita belum pernah bersama. Kata 'jatuh' pada 'jatuh cinta' mungkin saja merupakan peringatan awal. Sehingga hatiku mestinya benar-benar siap akan 'jatuh' yang sebenarnya dan tak boleh menyesal. Lalu aku bisa apa? Sementara luka dan sakit ini kujahit sendiri, kamu di sana sudah tak lagi ambil peduli. Andai sedikit saja kamu mau menoleh lagi, lihat aku. Masih disini, membuka hati, masih menganggap kamu lebih dari berarti..

Jika mencintai berarti memberi hati seutuhnya, aku tidak ingin mempertaruhkannya pada yang mahir meretakkan. Karena tidak pernah ada yang tahu telah sejauh apa aku memunguti serpihan itu satu-satu, mengumpulkannya, lalu menyatukannya lagi hingga sempurna, hingga tak ada luka. Ternyata kita tak pernah sepaham tentang apa arti cinta. Bagiku cinta adalah kamu, namun bagimu cinta bukanlah aku. Sebab itu, saling memiliki adalah salah satu dari sejuta hal mustahil di bumi ini yang pernah kuamini..

Aku ingin kamu, namun jika ternyata rasamu tak cukup kuat untuk membuat aku dan kamu menjadi kita, aku bisa apa? Betapa menjadi yang tulus mencintai, menanti sepenuh hati, tetap saja bukan jaminan akan balas dicintai. Apakah cinta memang begini? Apakah cinta setega ini? Lalu ketika kini aku terlanjur cinta, rasa ini harus dibawa ke mana? Sementara ke hatimu saja tak kutemukan jalannya. Harus meminta Tuhan seperti apa, agar kamu kelak membalas seluruh cinta? Barangkali memang begini seharusnya. Aku cinta, kamu tidak. Aku terluka, kamu tak tahu apa-apa..

Pada akhirnya, tak pernah hati ini mampu menyalahkanmu sebagai cinta yang salah. Sebab jika memang kamu suatu kesalahan, mengapa mencintaimu terasa begitu benar? Pada akhirnya, doa menjadi ungkapan paling sederhana dalam ukuran cinta yang tak mengenal logika. Aku terus menanti meski kutahu bukan aku alamat rumah yang hatimu cari. Cinta ini sudah terlanjur, dan jika aku terus mengharapkanmu bolehkah? Aku hanya ingin menjadi yang pintar mencintai, meski tak begitu fasih dalam ilmu memiliki. Meski kamu memilih jalan yang tak pernah melewati pintu hatiku, ingatlah bahwa itu tak berarti aku tak menunggumu di balik pintu. Bisa jadi, di suatu waktu yang entah, kamu tersesat kemudian berteduh di berandaku..

Kebahagiaanku masih bertumpu pada ketidakpastian. Entah kapan, tapi pasti kita akan bahagia dengan pelengkap pilihan Tuhan. Tapi untuk sekarang, doaku masih menyelipkan namamu sebagai penghantar kebahagiaan. Mengagumi dari jarak sejauh ini adalah pintu bahagia yang kupilih. Melalui kamu aku tahu cara menjaga hati. Melalui kamu aku pun tahu bagaimana rasanya sebuah penyesalan. Pada akhirnya kita berdua pasti akan bahagia. Meski bahagiamu ialah dengan bersama yang lain, dan bahagiaku adalah mengubah arah harapan menjadi sesuatu yang lebih mungkin..

September, awalnya kukira semua cerita ini akan berakhir disini. Namun ternyata memang ada sesuatu yang takkan pernah hilangselamanya. Kenangan! Ya, kenangan tentang pertemuan pertama kita setahun lalu di bulan september..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Masih menyibukan diri bersama kenangan yang berserakan..