Friday, 16 March 2018

*..Orang Yang Jatuh Cinta Diam-Diam(2)..*


"Apa kamu tahu rasanya mencintai tapi tak pernah bisa untuk memiliki, memendam perasaan tapi tak pernah bisa untuk mengungkapkan. Percayalah ini lebih dari sekedar patah hati.."


Hanya bisa mengagumi tapi selalu bersembunyi. Hanya bisa melihat tapi tak pernah mencoba mendekat. Peran ini sunguh tak nyaman. Sungguh benar-benar tak nyaman. Kesepian menjadi teman. Kegelapan menjadi sandaran. Dan aku merasa selalu melakukan hal itu tanpa bosan, jatuh cinta sendirian..

Sudah lewat seratus hari aku mengenalnya. Waktu yang lumayan lama, sejak aku mencintainya di pertemuan kami yang pertama. Tapi belum ada usaha sedikitpun aku untuk mendekatinya. Ini sungguh menggelikan. Padahal kami selalu berpapasan, berjabat tangan, dan saling bertukar pesan. Namun bukan tentang perasaan yang menjadi bahan pembicaraan. Ya, aku menjadikan organisasi yang sama-sama kami ikuti menjadi alasan agar ada topik bagiku untuk bisa berkomunikasi..

Tempat duduk kami dekat. Sedekat roti lapis coklat yang menjadi makanan favoritnya. Kemanapun dia pergi dan dimanapun dia berada roti lapis coklat itu selalu setia dia bawa dalam tasnya. Dan aku yang sebenarnya tak suka dengan aroma coklat, harus berjuang keras menyembunyikannya ketika aku harus duduk disampingnya. Bagaimana mungkin aku menyuruhnya menjauhkan makanan itu sedangkan itu adalah makanan kesukaannya? Bodoh. Kesukaanku padanya mengalahkan ketidaksukaanku pada coklat..

Kukira bukan hanya roti lapis coklat yang menjadi kegemarannya. Aku juga tahu semua hal lain yang menjadi favoritnya. Es krim rasa coklat, permen rasa coklat, kue tart rasa coklat, dan semua hal yang berhubungan dengan coklat. Saat kutanya kenapa dia suka sekali dengan coklat? Dia hanya menjawab "karena coklat itu manis". Ya ampun, alasan macam apa itu? Padahal di mataku dia jauh lebih manis daripada coklat-coklat itu..

Dan seperti yang kau pikirkan. Aku berusaha menyukai hal yang dia sukai. Awalnya memang sulit, karena aku benar-benar benci dan tak suka aroma coklat. Jangan tanya alasannya kenapa. Entahlah, aku hanya tak menyukainya. Cukup kau tahu itu saja. Seperti mencintai tanpa alasan, membenci pun bisa tanpa alasan juga kan? Jika semua harus membutuhkan alasan, lalu jelaskan padaku kenapa kita bisa jatuh cinta? Karena dia baik? Padahal kita sadar ada yang lebih baik. Karena dia cantik? Padahal kita sadar ada yang lebih cantik. Karena dia bisa membuat kita nyaman? Lalu kenapa dalam setiap hubungan selalu ada pertengkaran jika katanya sudah nyaman?

Pengecut. Mencintainya tapi tak pernah bisa untuk mengungkapkannya. Mungkin kalian akan berpikir seperti itu. Biarlah. Biarlah kalian semua bilang aku pengecut. Karena nyatanya aku memang seperti itu. Aku tak pernah berani untuk menunjukkan kekagumanku padanya. Aku tak pernah berani untuk menunjukkan perhatianku padanya. Aku tak pernah berani untuk menunjukkan kepedulianku padanya. Aku tak pernah berani untuk melakukan semuanya, karena aku tak pernah berani untuk menyakiti perasaan wanita yang kini tengah mencintaiku disana. Ya, wanita itu adalah kekasihku..

Benar, aku sudah memiliki seorang kekasih. Lebih tepatnya orang yang pernah kucintai. Orang yang pernah kuperjuangkan setengah mati. Orang yang sedang menungguku untuk pulang suatu saat nanti. Harusnya aku mengerti apa yang kulakukan ini salah. Tapi mengendalikan hati dan perasaan juga tak pernah mudah. Terlebih jarak membuat semuanya sedikit berubah. Dia yang selalu hadir dimataku seakan menghapus dia yang selalu ada dihatiku. Ya, aku telah resmi jatuh cinta diam-diam..

Ironis memang. Aku diam-diam mencintai wanita lain tanpa sepengetahuan orang yang mencintaiku. Ingin memiliki yang lain disaat aku sudah memiliki yang terbaik. Ya, terbaik. Dia yang mencintaiku dengan tulus walau terpisah jarak ribuan mil jauhnya. Apakah ini yang disebut dengan naluri lelaki? Ya, katakanlah kami para lelaki itu lemah. Hati kami mudah goyah. Kami tak sekuat kalian para wanita yang bisa menahan rindu. Terlebih perihal tentang menunggu..

Sampai suatu ketika ada sebuah pesan singkat yang akhirnya menyadarkanku, "Menduakan perasaan itu amatlah sangat mudah. Kenapa tidak mencoba hal yang lebih menantang? Setia misalnya?"

1 comment: