Wednesday, 14 February 2018

*..Hanya Sahabat..*

"Melihatmu bahagia bersama dia sebenarnya bukanlah mimpiku. Namun kusadar itu adalah mimpi kalian berdua, kamu dan dirinya.."



Jadi harapan yang pernah kuceritakan padamu dulu kuanggap hanyalah sebagai bualan. Sebuah igauan dari seorang pemimpi yang tak kunjung membuka matanya untuk melihat kenyataan. Dan yang kita sama-sama tahu kenyataan yang kulihat sekarang adalah mimpi buruk terbesar dari seseorang yang dulu pernah mengatakan jika kamu bahagia akupun akan ikut bahagia..

Namun nyatanya aku tak bisa melakukannya. Sungguh aku tak bisa melakukannya. Berulang kali ku berusaha tersenyum dan tertawa ketika ku melihatmu dengannya. Namun apa daya, mengendalikan perasaan tak semudah mengendalikan perkataan. Terlebih aku tak ingin terlihat palsu di depanmu. Bagaimana mungkin aku tega menipumu, memasang senyum di wajahku sedangkan dalam hati merasakan cemburu..?

Entah aku harus kecewa, marah, sedih, ataukah aku harus gembira saat aku tahu akhirnya kamu memilih dirinya? Harusnya aku bisa gembira bukan? Ya. Karena aku sahabatmu. Melihatmu bahagia seharusnya akupun ikut bahagia. Setidaknya aku tahu jawaban dari pertanyaan yang tak sempat aku tanyakan padamu hari itu. Hari dimana kamu akhirnya memilih dia bukan aku. Dan sejak hari itu aku tahu, aku tak lebih dari seorang sahabat bagimu..

Aku sadar aku terlambat menyadari. Jika ternyata kedekatan, keakraban, dan kehangatan kita selama ini ternyata memberikan arti yang berbeda di hati ini. Terlalu rumit untuk kujelaskan darimana awalnya kumulai mempunyai perasaan ini. Kita tumbuh dilingkungan yang sama, menyukai jenis musik yang sama, mempunyai kebiasaan unik yang sama, dan sempat ku berpikir kita pun mempunyai perasaan yang sama..

Dan sampai akhirnya kamu mengenal dirinya. Dunia kita tak lagi sama. Kamu terlalu sibuk memikirkannya hingga mengabaikanku yang terlalu sibuk memikirkanmu walau ku abaikan diriku sendiri. Kamu yang selalu menyediakan waktumu dengannya melupakanku yang akan selalu menyediakan waktuku untukmu walau kulupakan waktuku sendiri. Cincin persahabatan kita yang kurangkai dari semak ilalang berduri pun telah kamu ganti dengan cincin berkilauan pemberian darinya untuk hari istimewamu..

Kosong lima kosong dua. Untukmu yang tengah merayakan hari istimewa. Tak banyak yang ingin aku sampaikan padamu. Sebagai sahabatmu aku hanya bisa mendoakan. Tak lebih dan tak kurang. Bukankah kata orang doa itu adalah kado yang terindah? Karena lewat doa aku menyebutkan namamu di hadapan Tuhanku. Jadi semoga kamu bahagia..

Jangan tanya kenapa aku tak datang di hari istimewamu, bukankah di awal sudah kukatakan dengan jelas padamu? Aku tak ingin terlihat palsu di hadapanmu. Kuakui aku cemburu melihatmu bahagia bersamanya. Namun apa hakku melarang kebahagianmu? Aku hanyalah sahabat bagimu. Bahagiamu adalah bahagiaku. Cukup kamu tahu satu hal, aku disini sedang mencari kebahagiaanku sendiri. Akupun berhak bahagia bukan? Dan kamu tak berhak  melarang kebahagiaanku. Kamu hanyalah sahabat bagiku..

No comments:

Post a Comment