Tuesday, 2 January 2018

*..Aku Bisa Apa Selain Ini..*


"Pada akhirnya tidak ada yang bisa memaksa. Tidak itu janji ataupun setia. Sekalipun akhirnya harus pergi tidak ada yang bisa menahannya. Entah oleh siapapun atau apapun.."


Aku bisa apa lagi selain ini. Sendiri mengunjungi kembali tempat yang pernah menjadi saksi cerita cinta kita? Awannya dulu putih sejernih perasaan kita, sekarang awannya sudah membiru digerus rasa-rasa yang sudah mengharu. Aku bisa apa lagi selain ini. Sendiri mengunjungi tempat itu. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk membunuh rindu. Dan aku akan merasa kamu ada di sini menemaniku, berbicara bersamaku, seperti dulu..

Ingat kembali yang terjadi pada saat kita berbincang di suatu senja. Tentang bakal-bakal kenangan yang sekarang ternyata gagal membentuk senyuman. Dan sepertinya sekarang aku sudah gila. Semakin gila. Setelah kamu berhasil sembuh dari perasaan gilamu padaku. Kamu berhenti mencintaiku. Tinggal aku yang yang kesepian dipeluk rindu. Di sini, di tempat kamu pergi meninggalkanku..

Hanya dengan mengunjungi tempat itu sendiri, aku bisa membuat warasku akhirnya kembali. Meski hanya sementara dan tak lama akan kembali hampa. Kadang aku ingin menjelma menjadi udara saja lalu terbang ke tempatmu sekarang berada. Mengendap-endap, melayang, terhirup, beredar dan kuhidup di dalamnya. Memperhatikanmu dalam atmosfir perasaanmu. Ingin tahu apa yang kamu pikirkan disana, masih adakah secarik saja kenangan kita, adakah satu huruf saja dari potongan namaku yang masih kamu eja..?

Kamu tahu, aku pun muak dengan semua rasa-rasa yang sudah tak terbalas ini. Entah mengapa aku masih saja merindukanmu disini. Terlalu berartikah kamu untuk aku enyahkan saja menjadi mantan-mantan kenangan? Terlalu berartikah kamu untuk aku mengganti namamu dengan nama seseorang yang mungkin bisa melimpahkan bahagia untukku? Tapi hati ini tak mau sejenak saja berhenti membahas namamu. Seperti tak rela aku menanggalkan satu demi satu huruf dalam susunan namamu. Menghilangkanmu dari hatiku..

Ternyata aku memang sudah gila karenamu. Aku tak bisa berdebar seperti dulu. Seperti saat ada di sampingmu, jika dengan selain kamu. Jadi salahkah jika aku tetap merindukanmu, yang sudah tidak lagi mempunyai ruang di hati untuk meletakan namaku? Jadi salahkah aku jika tetap ingin terus memanggil namamu tiap lima menit sekali untuk kueja? Jadi salahkah aku jika masih berharap kotak bercahayaku berbunyi dengan menyajikan namamu disana, yang mungkin saja kau sudah menghapus namaku dalam kotak bercahayamu..?

Lalu aku bisa apa lagi selain ini. Sendiri mengunjungi kembali tempat yang pernah menjadi saksi cerita cinta kita? Dan aku akan selalu merasa kamu sedang ada di sini. Meski itu tak lebih dari karangan maya dalam otakku saja, otak yang sudah dipaksa melupakan logika oleh hati, hati yang terlalu menggila karenamu. Bidadari yang kupuja setengah mati..

Kapan kita akan kembali mengunjungi tempat itu lagi sebagai penawar rindu yang sudah berkarat ini? Dan kapan aku bisa mendengarmu menyebut potongan namaku lagi? Tapi bagaimana kalau kamu bahkan lupa dengan namaku yang sedang merindukanmu disini..?

No comments:

Post a Comment