Monday, 17 August 2015

*..Tentang Mengecewakan dan Dikecewakan..*




Ada pepatah yang mengatakan bahwa "Harapan tak selalu menjadi kenyataan." 

Ya. Dan hari ini aku harus kembali mencerna kata-kata itu sekali lagi dalam hati. Mengetahui maknanya lebih dalam untuk memahami maksud sebenarnya..


Dulu aku pikir harapan itu adalah harapan. Sesuatu yang menjadi alasan dan dasar kita untuk tetap hidup, tetap berusaha, dan tetap yakin untuk mewujudkannya menjadi nyata. Tapi jika harapan tak selalu menjadi kenyataan, lalu apa yang salah? Apa karena usaha kita tak sungguh-sungguh untuk mewujudkannya? Atau karena kita tak pernah benar-benar tahu perbedaan antara harapan dan kenyataan itu sendiri? Ya kita memang tidak pernah tahu, kita hanya bisa menebak-nebak bahwa harapan yang sedang kita pegang dengan kuat akan berbuah menjadi sebuah kenyataan yang akan semesta berikan sebagai imbalan. Padahal kita sendiri tahu terlalu kuat kita memegang sesuatu, maka terlalu cepat kita akan menghancurkannya. Bukankah itu pernah diajarkan dimasa sekolah dulu? Lalu untuk apa? Untuk apa mempertahankannya jika itu akan menghancurkannya..?

Seorang teman pernah bilang "Jangan terlalu berharap jika tak ingin terlalu kecewa, jika tak ingin kecewa maka janganlah berharap." Hei! Apa ia sadar apa yang telah ia katakan? Bukankah sudah kubilang bahwa harapan adalah alasan kita untuk tetap hidup, jika ia menyuruhku untuk tak mempunyai harapan itu sama saja ia menyuruhku untuk mati. Mungkin ia mengatakannya dengan harapan agar aku tak terlalu kecewa, tapi ketika aku tak menghiraukan kata-katanya apakah aku telah mengecewakan harapannya? Tidak juga kan..?

Pada akhirnya aku terjebak dalam sebuah lingkaran pemahaman yang tak berujung. Tentang harapan, kenyataan, dan kekecewaan yang hari ini aku rasakan. Hanya karena sebuah harapan yang berbeda dengan kenyataannya, hari ini aku berhasil mengecewakan seseorang. Oh, tidak. Mungkin lebih tepat jika aku mengatakan aku telah mengecewakan dua orang. Ya, dia dan diriku sendiri..

Rasanya seperti ada perasaan bersalah yang entah harus ditujukan pada siapa. Entahlah, aku bingung terlalu banyak yang dikecewakan disini. Mungkin kau akan bilang "Maafkanlah dirimu lalu setelah itu minta maaflah padanya." Dan percayalah itu sudah kucoba. Sepanjang jalan itu aku memikirkan seribu macam cara untuk memaafkan diriku, dan satu juta cara untuk meminta maaf padanya. Tapi memang dasarnya aku, aku memang terlahir pandai untuk berpikir, tapi untuk mengatakan dan melakukannya mungkin aku masih tergolong idiot..

Rasa bersalah yang aku rasakan hari ini ternyata masih kalah dari rasa lain yang lebih kuat. Rasa peduli. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk minta maaf, ini sudah malam, terlalu dingin. Udara dingin tak baik untuk tubuh kecilnya yang rapuh. Aku tahu apa yang ada di benaknya saat itu. Ia ingin cepat pulang, ia ingin cepat sampai, ia ingin berada di tengah suasana yang hangat dan akrab. Bukan disini! Di tengah-tengah cuaca dingin yang membeku, dan bisu..

Jujur sepertinya aku telah menaruh terlalu banyak harapan padanya, hingga terlalu banyak kecewa yang harus tercipta. Dan sepertinya aku juga butuh banyak waktu untuk meminta maaf padanya, tapi masihkah ada waktu yang ia berikan untuk mendengarkan sekali lagi maafku sementara waktu yang aku punya untuknya selalu berujung kecewa? Aku tak tahu harus bagaimana dengan keadaan ini, sementara mendekat hanya akan mengantarkan luka dan menjauh hanya akan meninggalkan pahit. Entahlah, aku merasa aku terlalu mengecewakan baginya, tak seperti harapan yang ia punya untukku. Sepertinya kita berdua terlalu salah membungkus harapan itu terlalu indah disana, tanpa kita tahu kecewa menjadi sesuatu yang ada di dalamnya..

"Maaf jika aku telah mengecewakanmu, maaf jika aku tak seperti yang kamu mau, maaf jika aku tak baik untukmu. Maaf jika selama bersamaku kamu tak menemukan sesuatu yang selama ini kamu cari.." 

Untuk dia dan aku..
 

No comments:

Post a Comment