Wednesday, 25 March 2015

*..Saengil Chukha Hamnida..*



Bagi orang lain, apalah artinya hari ke lima di bulan kedua itu? Tak ada yang spesial dan istimewa, semuanya terlihat sama seperti hari-hari lainnya..


Mungkin bagi sebagian orang ada yang membenci hari ini, entah apa alasannya dan ku tak pernah mau tahu itu. Hal yang lalu aku tepiskan dengan mentah. Lima Februari bagiku? Hari dimana Tuhan menitipkan pada sang bumi sesosok yang kuharap adalah bagian dari tulang rusukku yang menjelma menjadi manusia berwujud kamu..

Iya, kamu. Orang yang selama ini berada di garis depan setiap doaku. Memenuhi lemari otakku dengan semua file file tentangmu. Senyummu, suaramu, bahkan bayangan dirimu yang terlihat di belakangku saat aku tak berani berpaling menyapamu..

Masih jelas di ingatanku pertama kali aku melihatmu. Pertama kali kurasakan lidah ini kelu untuk berbicara. Dan aku merasa jantung ini berhenti berdetak untuk beberapa saat. Dan kamu tahu? Pada saat itu sahabat baruku, sang malaikat cinta sedang sibuk menceritakan tentang kamu di pikiranku..

Tapi apa yang bisa dilakukan olehku? Mengatakan padamu kalau aku baru saja kehilangan hatiku yang entah bagaimana kini berpindah tepat di jantungmu? Jangan bercanda! Menyapa dan sekedar berbicara denganmu saja aku tak berani bahkan terlihat kacau. Kutukan ini sepertinya semakin parah bagiku. Tak mudah memang untuk menjadi seorang pemalu..

Orang bilang: “Kenapa kau bodoh sekali? Kalau cinta, lekas katakan saja. Sebelum hatinya tercuri orang lain dan kau menghabiskan sisa hidupmu untuk menyesalinya.”. Mudah bagi mereka bicara, tetapi sulit bagiku mengatakannya. Bagiku, sepertinya lebih mudah membangun seribu candi dalam satu malam daripada harus mengatakan itu kepadamu. Aku malu, aku takut. Takut disaat aku mengatakan itu padamu, kau malah membenciku dan pergi jauh dariku..

Dan seperti yang kukatakan, kini kau seakan menjauh dan menjaga jarak denganku. Hanya karena keegoisanku, keegoisan yang kumiliki yang tak bisa menyimpan perasaan ini tetap tumbuh dalam hatiku tanpa kamu tahu..

Sepertinya, kenangan itu mulai memudar karena terlalu lama tersimpan di sana, jauh di dalam lubuk hatiku. Tapi tenang saja, ini adalah aku! Orang yang mencintaimu tanpa alasan jadi tak ada alasan juga bagiku untuk melupakanmu..

"Cintaku terlalu dalam untukmu..
Hingga sulit bagiku melupakanmu..
Pahami perasaan hatiku hanya untukmu..
Tak terasa waktu kian berlalu..
Tanpa memberikan kepastian itu..
Mungkinkah ini pertanda bagiku kaulah mimpiku..
Andai dirimu mengerti..
Rasa hati ini..
Hanya untuk dirimu..
Hanyalah untuk dirimu.."

Apakah kau tahu kalau bait di atas adalah penggalan dari lirik lagu yang kutulis untukmu? Lagu yang kuselipkan namamu di judulnya agar aku bisa terus mengingatmu ketika aku menyanyikannya? Ahh, bodohnya aku. Mana mungkin kau tahu bila aku tak pernah menunjukkannya padamu? Tuhan, bisakah Kau memberiku kesempatan satu kali saja agar aku bisa menunjukkan lagu ini padanya suatu hari nanti..?
 
Mungkin aku terlihat bodoh dengan menuliskan ini tanpa kau tahu. Tapi biarlah, aku rela bersahabat karib dengan si “bodoh” dalam setiap hal yang menyangkut tentang kamu. Meski mungkin aku akan terlupakan olehmu hari ini, esok dan seterusnya. Namun betapapun pedihnya hatiku, betapa besar kebencianku, semua itu takkan pernah bisa memupus rasa cinta dan sayangku padamu. Kenapa? Karena kini aku mengerti cinta tak harus memiliki..
Saengil Chukha Hamnida...

Untukmu, selamat ulang tahun...


No comments:

Post a Comment