Wednesday, 18 February 2015

*..Aku Merindukanmu(3)..*




Kembali ku berhenti di alinea pertama. Kembali ku menghela nafas panjang tak bersuara. Jujur saat ini aku sedang merasa bingung. Ya, bingung. Harus kumulai darimana tulisanku kali ini. Otakku sedang lemah tubuhku juga terlalu lelah. Terlebih hujan deras sepanjang sore tadi berhasil memaksa sepasang langkah itu untuk tetap berdiam diri dalam sebuah selimut tipis berwarna hijau cerah. Mendekap erat bagaikan sepasang kekasih yang tak ingin berpisah. Ya, sepasang langkah itu sedang takut basah..


Disini aku tidak sedang membicarakan aku. Disini aku sedang membicarakan kamu. Kamu yang aku cintai tapi tak pernah mengerti. Tapi untuk kali ini aku sedang tidak ingin membicarakan cinta yang bertepuk sebelah tangan, atau cinta yang menuntut untuk diperjuangkan. Aku sedang membicarakan hubungan antara kamu yang istimewa bagiku dan dia yang istimewa bagimu. Tidak. Ini bukan tentang cerita cinta segitiga. Sama sekali tidak. Karena disini tak ada yang memposisikan diri sebagai orang ketiga. Tidak aku, kamu, atau dia. Karena kamu dan dia adalah tokoh utama dalam sebuah cerita, sedangkan aku? Anggap saja aku hanyalah seorang penikmat cerita, penonton setia yang hanya bisa duduk di depan layar kaca..

Akui saja. Pada awalnya kamu tidak pernah menyangka kan jika dia akan menjadi sangat istimewa dalam hidupmu? Dia datang memberi tawa, saat kamu sedang tak berminat untuk membagi canda. Dia datang membawa cahaya, saat kamu menutup rapat jendela hatimu dari terangnya dunia. Dia datang membawa harapan, saat hatimu dipenuhi kekecewaan. Dia istimewa bagimu kan..?

Ia menawarkan sesuatu yang berbeda padamu. Membuka sedikit jendela hatimu. Sedikit demi sedikit cahaya itu menembus dari celah jendela yang terbuka. Hangat. Awalnya kamu pikir kata-kata yang terucap darinya hanya candaan belaka. Ya, karena memang cara bicaranya penuh dengan canda. Tapi ternyata dia serius. Setidaknya itulah yang dia katakan padamu. Dan kamu? Ragu? Tidak, kamu hanya takut. Kamu takut diabaikan lagi. Kamu takut dibuang lagi. Kamu takut dikecewakan lagi. Kamu takut dibohongi lagi. Kamu takut dihempaskan lagi. Ya, kamu hanya takut. Kamu takut terluka. Luka yang sama..

Butuh waktu lama kamu mempertimbangkannya. Walau pada akhirnya kamu membuka selebar-lebarnya jendela yang kau punya. Menerima meski masih dengan rasa takut dalam jiwa. Kamu hanya berharap, dia tidak sama dengan yang lainnya. Tidak sama dengan aku yang masih menunggu di depan pintu. Depan pintu? Hei sedang apa aku disana? Bukankah aku tak termasuk dalam sebuah cerita? Bukankah seharusnya peranku hanyalah sebagai penikmat cerita? Lalu sedang apa aku disana!? Tenang. Jangan panik. Terutama kamu. Aku disini tak sedang menunggu. Apalagi berharap kamu membuka pintu. Aku cuma mau mengembalikan sesuatu yang pernah kamu tinggalkan dulu. Ya, sesuatu itu bernama rindu..

Aku berharap dia akan menjadi cahaya baru dalam hatimu. Menerangi ruang hatimu yang pernah redup. Menjadi alasan dibalik senyum dan tawamu. Dan kuharap begitu. Begitupun aku semoga kau bisa menemukan rindu yang kuletakan di depan pintu itu. Rindu itu milikmu dan harus kukembalikan padamu. Terserah kamu mau apakan rindu itu. Kamu simpan? Kamu buang? Atau kamu abaikan? Terserah aku hanya tak ingin memikiki rindu milikmu itu lagi didekatku. Cuma itu saja..:)








No comments:

Post a Comment