Wednesday, 18 February 2015

*..Aku Merindukanmu(3)..*




Kembali ku berhenti di alinea pertama. Kembali ku menghela nafas panjang tak bersuara. Jujur saat ini aku sedang merasa bingung. Ya, bingung. Harus kumulai darimana tulisanku kali ini. Otakku sedang lemah tubuhku juga terlalu lelah. Terlebih hujan deras sepanjang sore tadi berhasil memaksa sepasang langkah itu untuk tetap berdiam diri dalam sebuah selimut tipis berwarna hijau cerah. Mendekap erat bagaikan sepasang kekasih yang tak ingin berpisah. Ya, sepasang langkah itu sedang takut basah..

Thursday, 12 February 2015

*..Selamat Ulang Tahun (Kamu)..*



Selamat ulang tahun, gadis pemilik tanggal lima di bulan dua. Teman yang sebenarnya kuanggap lebih dari teman.. 

*..Selamat Ulang Tahun (Aku)..*





Malam ini aku terbangun dari lelapku. Tak seperti biasanya kurasa..

*..Yang Terakhir Yang Terabaikan..*



Yang terakhir, yang terabaikan. Itulah aku. Akulah pilihan terakhirmu untuk menjadi pendengar cerita, akulah pilihan terakhirmu untuk menjadi penyeka air mata. Akuilah, karena hanya akulah yang kau cari disaat ia yang menjadi pilihan pertama tak lagi ada disisi. Namun saat pilihan pertama itu kembali akulah yang harus rela kau tinggalkan pergi. Terkadang akulah yang harus menghilang dibalik ilalang. Terasing, terabaikan, jatuh tergeletak tanpa suara.. 

*..Aku, Kamu, dan Senjaku(2)..*



Aku. Aku hanyalah seorang pria yang begitu menyukai senja dan matahari terbenam. Rasanya tak ingin sekalipun melewati warna jingga, yang selalu terlukis indah dari sapuan kuas sang Semesta di kanvas langit milikNya. Ya,meski ku tahu senja itu hanya sementara. Warnanya akan pudar. Dan kemudian akan datang hitam merenggut segalanya. Hitam yang sangat aku benci. Tapi bukankah itu hakikatnya? Yang indah tak selamanya ada, bahagia tak selamanya tinggal, dan sebuah senyuman pun tak selamanya bertahan. Bukankah Semesta mengajarkannya dengan jelas kepada kita..?

*..Aku Merindukanmu(2)..*


 
Aku benci saat-saat seperti ini. Saat malam kembali hadir, masih dengan aromanya yang semakin dingin. Aku benci saat-saat seperti ini. Saat rindu kembali datang, masih dengan sikapnya yang tak pernah meminta izin. Lagi-lagi aku menatap langit,mencoba menemukanmu di sana, dibalik wajahnya yang gelap. Sesekali kupejamkan mata ini, hanya untuk mengirim sebuah tanya pada sepi. Hei, apa kamu pun disana sedang menatap langit yang sama sepertiku..?