Wednesday, 19 November 2014

*..Awal Paragraf..*

arjawinangun

"Karena di awal paragraf menjadi tempat awal aku mengenalmu.."

*..Mawar Tanpa Duri..*


Awalnya kamu adalah kata yang hendak dituliskan oleh pensil yang sedang kupegang, yang meski telah kuruncingkan, ternyata tak segera berani memilih aksara pertama sebagai awalan. Hingga akhirnya ku menyadari, sudah berapa lama ku seperti ini? Masih berada disini, duduk di tempat yang sama sambil merelakan waktuku terbuang percuma..

*..Apa Kabarmu Bodoh(2)..*

apa kabar bodoh

Apa kabarmu, Bodoh? Baik-baikkah? Kurasa masih akan baik-baik saja. Atau mungkin hanya berpura-pura baik seperti biasanya? Baik ataupun tidak, kurasa kamu masih akan tetap bertahan pada tempatmu bukan? Anggaplah segalanya baik-baik saja dan kalaupun tidak, aku tahu kau adalah pemeran yang sangat hebat untuk memerankan peran baik-baik saja. Kau mampu terlihat baik-baik saja ketika segala hal berubah menjadi buruk. Aku tahu, dan aku selalu berterimakasih untuk itu..

*..Senja Biru..*


Senja biru. Entah kenapa ku melihat senja ditempat ini selalu berwarna biru. Senja itu harusnya berwarna jingga, bukan biru. Sering kali kukatakan hal itu pada Semesta sebagai pemiliknya. Dia hanya membalas nada protes dalam bicaraku dengan senyuman simpul tanpa aksara..

*..Bangunkan Aku Saat September Ini Berakhir..*


Bangunkan aku saat september ini telah berakhir. Saat aku lebih tua dan lebih bijak untuk mengerti bahwa kepergian bukanlah kehilangan. Bangunkan aku saat september ini telah berakhir. Saat aku lebih pintar dan lebih dewasa untuk memahami bahwa merelakan bukanlah melepaskan..

*..Beranda Kecilmu..*


Mentari senja telah menyinari dan mengiringi perjalananku. Menembus jingga, mengurai asa. Memang kuakui rasa yang dulu pernah ada, hingga hari inipun masih ada. Walau tak sebesar ketika kau dan aku ada pada suatu masa dan cerita yang sama. Hanya saja keenggananku untuk mengulang luka dan cerita lama, menjadikanku teriakan tanpa suara dan perjalanan tanpa asa..

*..Karena Aku Ini Bodoh..*

karena aku ini bodoh

Mungkin karena aku bodoh atau karena aku merasa bodoh, hingga ku menganggap semua ini tak mengapa dan aku juga masih menganggap semua ini baik baik saja. Bahkan ketika saat-saat seperti ini terulang, ketika ku terluka untuk kesekian kalinya. Masih di tempat yang sama dengan alasan yang tak pernah mau berubah. Mungkin karena mereka pintar atau karena mereka merasa pintar, hingga bisa berkata bahwa apa yang kulakukan ini tidak berguna. Bagiku itu tidak masalah, karena seperti yang pernah kubilang bahwa aku ini bodoh..

*..Suara Dari Si Penunggu Hati..*


"Masih merindu?" Tanyanya pada sosok yang duduk tersudut di sebuah ruangan.

"Ya tentu, lebih dari biasanya malah" terdengar jawaban pelan yang nyaris tak terdengar.

*..Hanya Sebuah Bayang..*

sebuah bayang

Senyum manisnya masih terekam hingga kini, saat ia masih mengingat caranya untuk tersenyum dihadapan seorang pemujanya yang tak tahu diri. Aku! Menuliskan hal ini aku tak lupa memutar sebuah lagu yang mengingatkanku pada pertemuan beberapa tahun yang lalu disaat ia masih bisa menyapa dan tersenyum padaku. Ya, sebuah lagu dari salah satu grup musik favoritku menemani resonansi imajinasi yang tersirat dalam lembaran fiksi bodoh untuk sang tuan puteri..

*..Saat Hujan Turun Di Pagi Hari(2)..*


Aku tahu, kamu membenci pagi yang seperti ini. Pagi yang murung karena mendung yang menggantung. Tak ada indahnya fajar, juga sinarnya yang biasa membuka pagimu dengan harapan. Semuanya tertutup awan hitam yang tak bosan bergelayut manja di langit sana, mengirimkan ribuan tetes hujan yang membuat harimu muram. Padahal hari ini kamu harus berangkat ke suatu tempat, namun karena hujan suasana menjadi dingin dan membuat langkahmu menjadi berat. Terpaksa payung kecil di sudut ruangan menjadi sebuah pilihan, jika memang hujan enggan untuk berhenti hari ini..

*..Apa Kabarmu, Bodoh..*


Dua dini hari ku terjaga dari lelapku dan terdengar dirimu mulai memanggil namaku pelan dalam sunyi. Dirimu yang pernah kulupakan, dirimu yang selalu membawa hujan. Ah menyebalkan! Kenapa kau selalu datang di saat ku ingin menarik selimut ini lebih erat melekat. Bodoh! Dasar bodoh! Kenapa kau tak pernah datang di saat waktu yang tepat. Di saat hujan tak sedang menjerat. Biar kita tak basah, biar kita tak resah. Di temani heningnya malam ku mulai mendekat, berdiri tepat di hadapan. Di iringi derasnya rintik hujan ku mulai menatap, erat diantara tatapan. Hai, Apa kabarmu bodoh? Sudah lama kita tak bicara. Membicarakan tentang hidup, membicarakan tentang dunia, dan membicarakan tentang mimpi kita berdua..

*..Secangkir Cappucino Di Kala Senja..*


cappucino

Senja ini aku kembali duduk di ambang jendela lantai dua, bersama secangkir Cappuccino yang sejak tadi asyik menemaniku bercerita. Cappuccino yang disajikan dengan kerinduan yang mendidih hingga mengepulkan gejolak harapan yang masih tersimpan. Cappuccino memang lebih istimewa jika dinikmati dikala senja. Disaat para dewa dan peri sedang menari-nari diatas kolaborasi warna jingga dan tirus yang diciptakan oleh semesta, sebagai hadiah darinya untuk mereka yang telah lelah dan bosan mendengar doa dari para manusia..

*..Selamat Malam Langitku..*


Selamat malam langitku, selamat malam hujanku. Aku tak tahu di belahan langit miliknya sekarang sedang turun hujan ataukah tidak ? Ataukah mungkin sekarang di sana sedang turun salju? Pasti indah. Kalau boleh berkata jujur aku belum pernah melihat salju. Mungkin, jika nanti hujanku sudah cukup bosan menghiburku ia pasti akan digantikan oleh salju, seperti yang turun dari langit miliknya. Dan aku akan bisa menyaksikan salju dengan mata kepalaku sendiri tanpa harus berdiri di bawah langitnya..

*..Ah Sudahlah..*

Duduk terdiam sendiri merenungkan hal yang telah terlewati. Apakah aku salah melabuhkan hatiku pada dirimu, yang tercantik di mataku yang terbaik di hatiku. Rintikan derai hujan di langit malam, ikut menghanyutkan lamunan panjangku menjauhi kenyataan. Ah sudahlah, kau memang tak pernah mengerti perasaanku saat ini yang sedang menunggumu, mengingatmu di setiap langkahku. Seperti halnya nafasku yang selalu kurajut bersama namamu dalam setiap hembusan kecilnya sebelum berakhir menjadi sesuatu yang lebih kecil di dalam tubuhku, denyut nadiku..