Sunday, 27 April 2014

*..Rindu Itu Sederhana..*


Dia. Dia hanyalah seorang wanita yang sederhana. Yang menangis ketika sedih menghampirinya. Yang tersenyum ketika kebahagiaan datang menyapa. Dia yang mengajariku banyak hal. Mengajariku bagaimana cara menari di bawah hujan, mengajariku bagaimana cara bertahan seperti karang, dan dia jugalah yang mengajariku untuk tetap memelihara mimpi yang lahir dalam kemustahilan. Sederhana sekali. Ya. Bukankah kita insan manusia memang selalu mendambakan kesederhanaan..?

Sunday, 20 April 2014

*..Hujan Di Persimpangan Jalan(5)..*


Kamu, kamu, dan kamu. Masih orang yang sama. Yang selalu hadir dengan menangis dan membuatku khawatir. Kata yang sama. "Aku tak apa dan aku baik-baik saja" Aku harap aku salah mendengarnya. Aku harap aku salah melihat setetes embun di sudut matanya. Aku harap aku salah memahami artinya. Tiba-tiba hujan turun. Masih tanpa payung aku diam berdiri disini..

*..Hujan Di Persimpangan Jalan(4)..*


Sekarang hujan sudah reda. Dan senja. Aku masih berdiri disini. Kuyup. Disamping tembok batu. Sepanjang hujan senja ini, aku bicara dengan tembok itu. Terkadang saling memeluk ketika dingin hampir menggigil. Senja ini kau tak datang lagi dan pikiranku sibuk menerka-nerka..

*..Hujan Di Persimpangan Jalan(3)..*


Bukan aku yang membawa hujan pagi ini. Bukan pula hujan bermaksud menjadi kado ulang tahun untukmu dariku. Bahkan aku lupa membawa mantel hujan untuk menepis gerimis dari wajahku. Barangkali, hujan ingin menggantikan 22 batang lilin yang mestinya dinyalakan seseorang saat itu. Ah, ketimbang meniup lilin, memang lebih pantas rasanya jika kau merayakan ulang tahun dengan meniup hujan saja..