Saturday, 27 July 2013

*..Dear Diary Patah Hati(3)..*



Dear Diary,,



Kutuliskan cerita ini di atas lembar hati yang kusam dan berdebu. Semua tentang perasaanku, semua tentang kegundahanku, karena semua masih tentangmu. Coba rangkai sisa kata dari kepingan hati yang telah dingin dan beku. Berharap kau tahu isi hatiku..

Aku tahu aku lelaki mestinya ku bisa melupakan semua ini, mestinya ku bisa menghentikan cerita ini. Namun biarkan aku, lelaki bodoh yang sedang mencoba belajar setia. Setia menjaga perasaan untuk satu kata, setia menjaga perasaan untuk satu cinta. Karena perasaan bukanlah sesuatu yang dapat dikendalikan oleh hati. Dan perasaan ini memilihmu, sepenuh hati hanya dirimu..

Aku menjaga selamanya perasaan yang aku punya untukmu. Agar ketika kau kembali aku masih membawanya di ujung langkahku. Atau ketika kau takkan kembali aku masih memilikinya di ujung nafasku..

Aku tahu kau kecewa padaku. Hanya karena kekuranganku, hanya karena ketidakmampuanku, hanya karena ketidaksempurnaanku yang nyatanya tak bisa kusembunyikan ketika ku di hadapmu..

Kenanglah aku, seorang yang tak bisa luluhkan hatimu. Kenanglah aku, seorang yang tak bisa menyentuh cintamu. Ku tak mau kau mengenangku sebagai bagian masa lalumu. Karena sekarang, esok, dan selamanya aku masih menunggumu. Dan akan tetap menunggumu bersama satu harapan yang memeluk semua doaku tentang dirimu tentang bayangmu yang masih terdiam membisu..

Namun apa yang bisa aku lakukan jika dirimu sendiri yang memilih untuk tinggalkan? Namun apa yang bisa aku lakukan jika dirimu sendiri yang memilih untuk lupakan? Selain membawa perasaan ini hilang bersama cahaya di sudut mata yang terpejam. Berharap kau akan hadir kembali walau hanya dalam mimpi, walau hanya dalam puisi..

Andai engkau tahu bila menjadi aku, yang harus memendam kerinduan ini di jejak gelap bintangku. Ku yang sangat ingin katakan tapi tak bisa untuk katakan. Entah bagaimana caranya agar kau bisa mengerti..

Apa kau mendengarnya? Ku yang memanggil namamu di setiap kehampaan rasa sepi. Namun tanpa kusadari hanya senyuman terakhir itu yang menjadi sebuah kenangan. Apa kau merasakannya? Ku yang menyentuh gambarmu di setiap kejenuhan rasa sendiri. Hingga tanpa kusadari hanya belaian tangan itu yang menjadi salam perpisahan..

Aku yang tersakiti oleh cintaku sendiri, dan aku yang tersakiti oleh hatiku sendiri. Seharusnya ku membencinya seharusnya ku membunuhnya. Tapi entah mengapa ku masih bisa tunjukkan senyum terbalut luka. Mungkin karena ku butuh sakit itu untuk mengingat dirimu, mengingat indahmu, dan mengingat jika cinta tak selamanya menjadi cerita indah..

Jika perpisahan adalah yang terbaik untuk hidupmu, aku kan mencoba mengubahnya menjadi penantian untuk hatiku. Sebagai seorang yang tak dianggap aku hanya bisa berharap. Dirimu masih bisa berikan satu ruang hatimu untuk ku jadikan sandaran walau hanya sebatas teman.. 

2 comments: